Hidup Itu (Memang Tentang) Pilihan
Kita cenderung bingung kenapa hal-hal buruk yang kita hadapi saat ini bisa terjadi. Padahal, ketika hal-hal sebaliknya, hal-hal yang baik, kita dapatkan, kita malahan tidak begitu peduli kenapa hal itu terjadi dan tidak memiliki rasa keingintahuan bagaimana hal itu terjadi. Kita mungkin memang seperti itu adanya. Ketika kita terjebak dalam situasi yang kita tidak inginkan, insting kita seketika menjadi jauh lebih tajam dari sebelumnya. Kita mulai mengumpulkan runutan kejadian-kejadian secara kronologis sembari memastikan alur cerita. Kita mulai bertanya apa, bagaimana dan kenapa. Kita mulai mencari cara bagaimana caranya keluar dari situasi yang ada. Lalu, entah bagaimana caranya, kita bisa keluar dari situasi yang kita tidak inginkan dan kembali pada titik keseimbangan yang kita inginkan. Iya, entah bagaimana caranya. Seringkali kita belum mengerti sampai Yang Maha Tahu menjelaskannya ke kita dengan cara yang maha unik. Meskipun begitu, percaya atau tidak, pada dasarnya, semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya.
Kemungkinan 50:50
Saya percaya bahwa bahkan ketika saya menulis ini pun saya dihadapkan pada berbagai kemungkinan. Ada satu dari jutaan kata yang bisa saya pilih untuk menyelesaikan kalimat ini. Berarti saya dihadapkan pada jutaan kemungkinan. Namun, apa yang ingin saya tulis dan apa yang saya maksud dalam kalimat ini, tentu memiliki kemungkinan yang lebih kecil. Sehingga saya tidak perlu berjibaku dengan jutaan kemungkinan untuk menyelesaikan satu kemungkinan. Kenapa? Karena, saya tahu betul apa yang saya mau tulis.
Saya pun merasa hidup persis seperti itu. Apabila kita tersesat, kita dihadapkan kepada terlalu banyak kemungkinan. Kita menjadi bingung dan kita tidak tahu harus memilih jalan yang mana. Di saat situasi seperti itu terjadi, sebenarnya kita bukannya tidak bisa memilih. Kita hanya tidak tahu set-set kemungkinan mana yang lebih mendekatkan kita ke tujuan kita. Ini pun sebenarnya dapat kita lihat di teori probabilitas sederhana. Misalnya, yang kita inginkan adalah X dan pilihan adalah P. Lalu, persamaannya adalah seperti ini X1 = {P1, P2, P3, ..., P(n+1)}, dan X2 = {P1, P2}. Sangat kentara sekali kalau kita akan lebih nyaman dan lebih mudah memilih untuk berada di situasi X2. Kita lebih mudah menganalisa hal-hal yang akan terjadi dan kita "hanya" dihadapkan pada kemungkinan 50:50.
Meski demikian, mudah atau susahnya memilih itu benar-benar sebuah persepsi dan permainan pikiran. Ada satu saat di mana kita akan merasa bahwa kita memiliki terlalu banyak pilihan di tangan kita. Namun, apabila pilihan-pilihan itu satu per satu kita singkirkan berdasarkan faktor sana sini, kita akan hampir selalu tiba pada situasi 50:50. Karena, pada akhirnya, pilihan itu selalu di antara iya atau tidak, benar atau salah, atau ada dan tiada. Pada intinya, sangat penting bagi kita untuk bisa menyingkirkan pilihan-pilihan yang tidak relevan dan hanya menjadi distorsi dalam pengambilan keputusan kita. Untuk sampai pada titik ini, di sinilah, lagi-lagi pertanyaan "Apa yang sebenarnya saya ingingkan?" kembali memegang peranan penting.
Analisa Skenario
Apakah kamu pernah sedang menonton film dan sudah dapat menduga akhir dari cerita di film itu seperti apa? Walaupun kamu belum pernah menontonnya? Biasanya kamu sudah bisa mulai menduga-duga akhir cerita film tersebut, karena kamu sudah pernah menonton film-film dengan alur yang sama atau paling tidak mirip. Ketika kita dihadapkan di beberapa pilihan, kita memang cenderung takut untuk menetapkan pilihan. Sebagian besar ketakutan itu disebabkan oleh ketidaktahuan apa yang akan terjadi. Deepak Chopra pernah membahas betapa tidak nyatanya ketakutan itu sebenarnya di bukunya yang berjudul "Why God is Laughing?". Saat sekarang ini, menurut Deepak, kita selalu dibungkus oleh ketakutan dan ketakutan adalah komponen di hidup ini yang akan membuat kita bertahan, karena ketakutan akan memicu kesiagaan jiwa dan raga kita terhadap bahaya yang akan menghampiri. Berita-berita bencana alam, pembunuhan, kecelakaan dan banyak lainnya menjadi santapan pagi, siang dan malam kita. Ketakutan bahwa hal-hal itu akan terjadi pada kita membuat kita merasa tidak aman.
Deepak lalu mengungkapkan bahwa ketakutan adalah sesuatu yang tidak nyata. Yang nyata adalah apa yang ada di depan kita sekarang, hal-hal yang kita percaya bahwa ada di kuasa kita. Ketakutan akan selalu memanjakan kita dalam mengambil sebuah keputusan. Kambing hitam dari situasi yang kita alami sekarang akan dengan mudah kita lemparkan ke kemungkinan yang menurut kita tidak ada dalam kuasa kita. Menurut Deepak (dan saya pun setuju), setiap dari kita adalah titik tengah dari hidup kita dan kita memegang kuasa terhadap apa pun yang terjadi dalam hidup kita. Iya, terhadap apa pun, termasuk keputusan-keputusan yang kita ambil dan situasi yang kita alami sekarang.
Tentu saja, butuh perubahan pola pikir ekstrim untuk benar-benar bisa hidup tanpa ketakutan sama sekali. Film-film yang pernah kita tonton, tanpa kita sadari membentuk sebuah pola bagaimana alur cerita mengalir di sebuah film. Maka itu, ketika kita menonton film dengan alur serupa, kita bisa langsung menduga bagaimana film itu akan berakhir. Hal yang paling mudah bagi kita untuk menyadari bahwa kita memegang kuasa terhadap hidup kita adalah untuk membayangkan skenario-skenario yang bisa kita pilih apabila kita mengambil satu keputusan. Visualisasi kita terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi itulah yang akan membantu kita untuk mengikis ketakutan kita secara perlahan. Apa pun yang akan terjadi di depan, kita setidaknya sudah bisa menduga bahwa satu atau beberapa skenario yang sudah kita siapkan akan terjadi.
Kesempatan Kedua
Lalu, bagaimana apabila ternyata keputusan yang kita ambil "salah"? Menurut saya, ketika kita sudah benar-benar tahu apa yang kita inginkan, menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita inginkan, menyingkirkan rasa takut serta pasrah, maka semua keputusan yang kita ambil tidak akan pernah salah. Yang terjadi adalah, situasi dimana kita bisa memperbaiki keputusan kita untuk menjadi keputusan yang lebih baik. Hal ini sedikit banyak menjadi jauh lebih sulit karena kita seringkali percaya bahwa tidak ada kesempatan kedua dalam hidup ini. Percaya atau tidak, ada banyak kesempatan kedua yang kita akan alami dalam hidup ini. Kenapa? Karena, kita memegang kuasa terhadap hidup kita dan kita selalu punya kesempatan untuk memperbaiki keputusan-keputusan kita.
Selain itu juga, penting bagi kita untuk tidak pernah menyesal terhadap keputusan yang kita ambil dalam hidup kita, termasuk akibat-akibat dari keputusan yang kita jalankan. Seringkali kita mendengar ungkapan bahwa hidup terlalu singkat untuk diisi dengan penyesalan, dan mungkin ungkapan klise itu benar adanya. Seorang teman pernah berkata kepada saya bahwa tidak apa-apa untuk melakukan kesalahan berulang kali, karena mungkin memang kita butuh untuk salah berkali-kali untuk bisa melakukan hal yang benar. Terlepas dari campur tangan Tuhan terhadap alam dan kematian, pada akhirnya, hidup itu memang tentang pilihan, karena semua keputusan dan kuasa terhadap apa yang kita alami sepenuhnya berada di tangan kita.
Kemungkinan 50:50
Saya percaya bahwa bahkan ketika saya menulis ini pun saya dihadapkan pada berbagai kemungkinan. Ada satu dari jutaan kata yang bisa saya pilih untuk menyelesaikan kalimat ini. Berarti saya dihadapkan pada jutaan kemungkinan. Namun, apa yang ingin saya tulis dan apa yang saya maksud dalam kalimat ini, tentu memiliki kemungkinan yang lebih kecil. Sehingga saya tidak perlu berjibaku dengan jutaan kemungkinan untuk menyelesaikan satu kemungkinan. Kenapa? Karena, saya tahu betul apa yang saya mau tulis.
Saya pun merasa hidup persis seperti itu. Apabila kita tersesat, kita dihadapkan kepada terlalu banyak kemungkinan. Kita menjadi bingung dan kita tidak tahu harus memilih jalan yang mana. Di saat situasi seperti itu terjadi, sebenarnya kita bukannya tidak bisa memilih. Kita hanya tidak tahu set-set kemungkinan mana yang lebih mendekatkan kita ke tujuan kita. Ini pun sebenarnya dapat kita lihat di teori probabilitas sederhana. Misalnya, yang kita inginkan adalah X dan pilihan adalah P. Lalu, persamaannya adalah seperti ini X1 = {P1, P2, P3, ..., P(n+1)}, dan X2 = {P1, P2}. Sangat kentara sekali kalau kita akan lebih nyaman dan lebih mudah memilih untuk berada di situasi X2. Kita lebih mudah menganalisa hal-hal yang akan terjadi dan kita "hanya" dihadapkan pada kemungkinan 50:50.
Meski demikian, mudah atau susahnya memilih itu benar-benar sebuah persepsi dan permainan pikiran. Ada satu saat di mana kita akan merasa bahwa kita memiliki terlalu banyak pilihan di tangan kita. Namun, apabila pilihan-pilihan itu satu per satu kita singkirkan berdasarkan faktor sana sini, kita akan hampir selalu tiba pada situasi 50:50. Karena, pada akhirnya, pilihan itu selalu di antara iya atau tidak, benar atau salah, atau ada dan tiada. Pada intinya, sangat penting bagi kita untuk bisa menyingkirkan pilihan-pilihan yang tidak relevan dan hanya menjadi distorsi dalam pengambilan keputusan kita. Untuk sampai pada titik ini, di sinilah, lagi-lagi pertanyaan "Apa yang sebenarnya saya ingingkan?" kembali memegang peranan penting.
Analisa Skenario
Apakah kamu pernah sedang menonton film dan sudah dapat menduga akhir dari cerita di film itu seperti apa? Walaupun kamu belum pernah menontonnya? Biasanya kamu sudah bisa mulai menduga-duga akhir cerita film tersebut, karena kamu sudah pernah menonton film-film dengan alur yang sama atau paling tidak mirip. Ketika kita dihadapkan di beberapa pilihan, kita memang cenderung takut untuk menetapkan pilihan. Sebagian besar ketakutan itu disebabkan oleh ketidaktahuan apa yang akan terjadi. Deepak Chopra pernah membahas betapa tidak nyatanya ketakutan itu sebenarnya di bukunya yang berjudul "Why God is Laughing?". Saat sekarang ini, menurut Deepak, kita selalu dibungkus oleh ketakutan dan ketakutan adalah komponen di hidup ini yang akan membuat kita bertahan, karena ketakutan akan memicu kesiagaan jiwa dan raga kita terhadap bahaya yang akan menghampiri. Berita-berita bencana alam, pembunuhan, kecelakaan dan banyak lainnya menjadi santapan pagi, siang dan malam kita. Ketakutan bahwa hal-hal itu akan terjadi pada kita membuat kita merasa tidak aman.
Deepak lalu mengungkapkan bahwa ketakutan adalah sesuatu yang tidak nyata. Yang nyata adalah apa yang ada di depan kita sekarang, hal-hal yang kita percaya bahwa ada di kuasa kita. Ketakutan akan selalu memanjakan kita dalam mengambil sebuah keputusan. Kambing hitam dari situasi yang kita alami sekarang akan dengan mudah kita lemparkan ke kemungkinan yang menurut kita tidak ada dalam kuasa kita. Menurut Deepak (dan saya pun setuju), setiap dari kita adalah titik tengah dari hidup kita dan kita memegang kuasa terhadap apa pun yang terjadi dalam hidup kita. Iya, terhadap apa pun, termasuk keputusan-keputusan yang kita ambil dan situasi yang kita alami sekarang.
Tentu saja, butuh perubahan pola pikir ekstrim untuk benar-benar bisa hidup tanpa ketakutan sama sekali. Film-film yang pernah kita tonton, tanpa kita sadari membentuk sebuah pola bagaimana alur cerita mengalir di sebuah film. Maka itu, ketika kita menonton film dengan alur serupa, kita bisa langsung menduga bagaimana film itu akan berakhir. Hal yang paling mudah bagi kita untuk menyadari bahwa kita memegang kuasa terhadap hidup kita adalah untuk membayangkan skenario-skenario yang bisa kita pilih apabila kita mengambil satu keputusan. Visualisasi kita terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi itulah yang akan membantu kita untuk mengikis ketakutan kita secara perlahan. Apa pun yang akan terjadi di depan, kita setidaknya sudah bisa menduga bahwa satu atau beberapa skenario yang sudah kita siapkan akan terjadi.
Kesempatan Kedua
Lalu, bagaimana apabila ternyata keputusan yang kita ambil "salah"? Menurut saya, ketika kita sudah benar-benar tahu apa yang kita inginkan, menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita inginkan, menyingkirkan rasa takut serta pasrah, maka semua keputusan yang kita ambil tidak akan pernah salah. Yang terjadi adalah, situasi dimana kita bisa memperbaiki keputusan kita untuk menjadi keputusan yang lebih baik. Hal ini sedikit banyak menjadi jauh lebih sulit karena kita seringkali percaya bahwa tidak ada kesempatan kedua dalam hidup ini. Percaya atau tidak, ada banyak kesempatan kedua yang kita akan alami dalam hidup ini. Kenapa? Karena, kita memegang kuasa terhadap hidup kita dan kita selalu punya kesempatan untuk memperbaiki keputusan-keputusan kita.
Selain itu juga, penting bagi kita untuk tidak pernah menyesal terhadap keputusan yang kita ambil dalam hidup kita, termasuk akibat-akibat dari keputusan yang kita jalankan. Seringkali kita mendengar ungkapan bahwa hidup terlalu singkat untuk diisi dengan penyesalan, dan mungkin ungkapan klise itu benar adanya. Seorang teman pernah berkata kepada saya bahwa tidak apa-apa untuk melakukan kesalahan berulang kali, karena mungkin memang kita butuh untuk salah berkali-kali untuk bisa melakukan hal yang benar. Terlepas dari campur tangan Tuhan terhadap alam dan kematian, pada akhirnya, hidup itu memang tentang pilihan, karena semua keputusan dan kuasa terhadap apa yang kita alami sepenuhnya berada di tangan kita.









1 comments:
Pikiran manusia itu penuh skema Cha, berguna sekali untuk pemecahan masalah. Tapi balik lagi skema itu butuh input dari pengalaman. Jadi semakin banyak pengalaman kita memilih-baik atau buruk konsekuensinya- makin peka kita sama pilihan yang terbaik.
Take it easy, for all the beauty in life :D
Poskan Komentar
<< Home