Ada Yang Hilang
Berita Nenek meninggal, aku terima dengan sangat mendadak. Benar-benar seperti ungkapan petir di siang bolong, seada-adanya. Menjelang makan siang, di tengah-tengah menumpuknya janji-janji pekerjaanku, Ibuku menelpon dengan terisak-isak. Sedetik itu juga, aku tahu bahwa ada sesuatu yang sangat salah telah terjadi. Pikiranku bergerak cepat, mencari-cari kemungkinan demi kemungkinan. Apakah rumahku kecurian? Pikiranku membantah cepat dan memberitahu aku bahwa kecurian adalah hal terakhir yang akan membuat Ibuku terisak-isak sebegitu hebatnya.
“Nenek meninggal.” begitu yang Ibuku ucapkan. Sungguh singkat dan aku nyaris tidak percaya.
“Inna illahi wa’ inna ilaihi rojiun.” Aku ucapkan tetap disertai rasa tidak percaya.
“Kenapa bisa?” tanyaku.
“Nenek terjatuh di kamar mandi. Kemudian beliau pingsan, dan tidak pernah bangun lagi.” jawab Ibuku, masih dengan isakan-isakan yang membuat hatiku semakin mengilu.
Kue nastar yang masih hangat, dengan selai nanas yang tidak pelit dan aroma gosong yang khas. Siapa yang bisa menolak kue-kue nastar ini?
Sore itu juga, aku dengan seluruh keluarga berangkat menuju Makassar. Selama di perjalanan, pikiranku menerawang dengan gambar-gambar Nenek yang masih melekat erat. Air mata enggan keluar karena akal sehatku yang sudah terlalu sakit, masih berteriak-teriak, mencoba menggodaku bahwa ini semua tidak nyata. Yang terlintas seketika adalah kilasan sosok Nenek yang suka sekali membuat kue. Aku teringat ketika beliau sempat tinggal cukup lama di rumahku. Di kala senggangnya, beliau suka sekali membuat kue-kue. Tidak ada toko kue manapun yang mampu mengalahkan kue-kue buatan rumah, termasuk kue buatan Nenek. Salah satu kue dari kue-kue yang sering dibuatnya adalah kue nastar dengan isi selai nanas. Kue nastar Nenek sangat khas. Isi selai nanas dibuatnya sendiri.
“Aduh. Gosong deh!” teriak Nenekku ketika suatu kali beliau mendapati kue nastarnya ditinggal terlalu lama. Adik perempuanku yang biasanya membantu beliau hanya bisa tertawa kecil. Sementara, aku dan adik laki-lakiku sangat senang dengan kejadian ini. Bagaimana tidak? Kue-kue nastar gosong ini adalah kue-kue yang tidak akan masuk toples. Kue nastar yang masih hangat, dengan selai nanas yang tidak pelit dan aroma gosong yang khas. Siapa yang bisa menolak kue-kue nastar ini?
Tidak lama setelah itu, Nenek akan kembali asyik berjongkok mengolesi adonan-adonan kue nastarnya dengan kuning telur. Sepenggal ingatan tentang sosok Nenekku yang menemani perjalananku ke Makassar.
“Kita punya banyak cucu dan aku mendoakan mereka satu per satu.” jawab Nenekku.
Sudah hari ketiga aku berada di Makassar, dan aku masih miris melihat Kakekku yang seringkali mendadak menangis apabila mengingat Nenek sudah tiada.
“Kenapa cepat sekali?” Berulang-ulang kali Kakekku mengucapkan hal yang sama.
Beberapa tahun lalu, Kakek sempat terkena serangan jantung. Semenjak itu, Nenek selalu merawat Kakek dengan perhatian lebih dari biasanya. Hal itulah yang menjadi salah satu pemicu kesedihan Kakek. Di hari Nenek terjatuh, Nenek tidak pernah sadarkan diri sampai beliau meninggal. Yang Kakek inginkan, hanyalah diberikan waktu lebih oleh Yang Maha Kuasa untuk membalas kebaikan Nenek ketika beliau merawatnya selama ini.
“Kenapa cepat sekali? Kenapa cepat sekali?” lirih Kakekku berulang kali.
Seperti kebanyakan Kakek dan Nenek kita, mereka juga menikah di usia yang sangat muda. Sewaktu Kakek menikah dengan Nenekku, Nenek masih berumur 16 tahun. 58 tahun mereka menikah dengan segala lika-likunya. 8 putra-putri yang kesemuanya menjadi “orang” adalah kebanggaan dan tropi mereka. Dari putra-putri mereka, lahir 23 cucu-cucu kesayangan mereka.
Di subuh di hari Nenek meninggal, Nenek menghabiskan waktu lama sekali berdoa sehabis sholatnya. Sangat lama, sehingga Kakekku pun bertanya,
“Kamu berdoa apa sampai begitu lamanya?”
“Kita punya banyak cucu dan aku mendoakan mereka satu per satu.” jawab Nenekku.
Nenekku telah menjadi bagian yang hilang dan menjadi bagian yang menemukan kembali sisi-sisi yang pernah hilang.
Sekarang, rumah kecil di Makassar itu di satu saat terasa terlalu besar, karena baru ditinggal Nenek. Di satu saat yang lain, akan terasa terlalu kecil, karena terlalu penuh oleh kenangan dari orang-orang yang mencintainya. Sampai sekarang semua orang yang mencintainya merindukannya. Kadang-kadang, di saat-saat malam seperti ini, aku teringat ketika aku pulang kuliah larut malam dan harus membangunkan Nenek untuk membukakan pintu. Aku juga teringat terakhir kali aku bertemu Nenek. Saat itu, aku dengan lahap memakan kue-kue buatan Nenek. Aku juga ingat kalau setiap kali aku kembali ke Makassar, Nenek pasti akan memasakkan telur goreng atau ayam, karena beliau tahu betapa tidak sukanya aku makan ikan. Aku seringkali memikirkan bagaimana Kakekku bisa menghabiskan hari-hari setelah beliau menghabiskan 58 tahun hidup bersama Nenek.
Kepergian Nenek membuatku merasakan kembali bagaimana rasanya menjadi manusia. Kesibukan satu dilanjutkan dengan kesibukan yang lain membuat kita seringkali lupa bahwa kita ini manusia. Kehilangan Nenek membuatku menyadari banyaknya hal-hal penting di dalam hidup ini yang terlewat. 166 hari terlewati, dan aku baru melanjutkan tulisan ini setelah aku mendadak ingin mendengarkan lagu dari Ipang yang berjudul “Ada Yang Hilang”. Di satu sisi, Nenekku telah menjadi bagian yang hilang dan menjadi bagian yang menemukan kembali sisi-sisi yang pernah hilang.
Selamat jalan, Nenek. Semoga Yang Maha Kuasa menjaga Nenek sebagaimana Nenek menjaga kami dengan penuh kasih sayang selama hidup Nenek.
--- Tulisan ini didedikasikan untuk Nenek tercinta, Hj. Siti Mantasiah (1 April 1937 – 16 Oktober 2009)









5 comments:
Well said :)
Love your writing -as always-
Your #1 Fans
thank you. greatly appreciated :D
me like writing to my #1 fans.
I wish i knew Her...
ini nulisnya pake hati banget, tulusnya berasa sama yang baca sampai mata saya ikutan berkaca-kaca. dan saya lagi di kantor.
semoga Nenek selalu bahagia disana, dengan anak cucu yang selalu sayang dan mendoakan... :)
saya bisa merasakan bgmna kehilangan nenek tercinta..
Poskan Komentar
<< Home