Nenek Si Penyanyi
Suatu malam, aku sedang dalam perjalanan pulang dari Depok menuju Bekasi. Ketika itu, aku menaiki Patas 9B dari Pasar Rebo. Adalah suatu hal yang sungguh nikmat ketika anda andalah 40 orang pertama yang menaiki salah satu bis Mayasari Bakti ke manapun tujuan anda. Sungguh nikmat, karena anda bisa memilih anda mau duduk di mana. Dan, hal itulah yang biasa kulakukan ketika naik Patas 9B di Pasar Rebo. Pasar Rebo adalah titik awal keberangkatan Patas 9B menuju Bekasi. Kalau anda naik Patas 9B di titik lain setelah Pasar Rebo, mungkin anda termasuk di golongan 60 orang pertama yang berdiri. Namun biasanya, perjalanan Patas 9B dari Pasar Rebo ke Bekasi tidaklah sepadat arah sebaliknya.
Malam itu aku memilih duduk di dekat pintu belakang bis. Bagiku, ini adalah zona nyamanku. Karena, di dekatku adalah jendela dengan ukuran 2.5 x 1.5 meter. Angin berhembus sangat kencang sekali di pintu belakang. Walaupun dapat dipahami bahwa semua debu dalam perjalananku menuju Bekasi dapat menempel di mukaku yang berminyak dan asap knalpot dapat bersemayam di paru-paruku, rasa-rasanya angin malam lebih menggoda. Dalam kehidupan nyata, mungkin hal ini sama dengan bapak-bapak umur 40 tahunan dan memiliki penyakit asam urat, yang tidak dapat menolak makanan-makanan pantangannya.
Bis akan memasuki jalan tol sehabis melakukan putaran satu kali di Cawang. Penumpang yang berdiri sudah mulai berdesakan. Selama di Cawang, angin yang mengalir ke mukaku sangat langka. Seiring mulai ramainya isi bis, aku mulai kepanasan. Keringatku mulai berkembang biak seenak jidatnya di punggung dan mukaku. Aku sangat tidak sabar menantikan laju 120 km/jam bis ini di jalan "bebas hambatan" nanti. Aku membayangkan sebuah 30 menit tidur yang indah. Apalagi angin yang bertiup menerpa keringat di leher dan wajahku sudah barang tentu akan membuat tidurku semakin sejuk.
Ketika polisi kembali menyaringkan peluitnya untuk sekian kalinya, tanda supaya bis ini tidak mengambil penumpang lagi dan segera berjalan, tiba-tiba seorang nenek melompat masuk ke dalam bis. Setiap kali anda menemukan kata "nenek" sehabis tanda koma ini, bayangkanlah seorang nenek. Iya, nenek. Wanita dengan goresan keriput yang sangat jelas di wajahnya tanda termakan usia kepala 6. Wanita dengan kulit-kulit yang otot-ototnya mulai hilang tidak berbekas ditelan tulang. Wanita dengan baju-baju kebaya dan sarung tua yang kumal. Wanita dengan sehelai kain bandana yang sudah usang yang melilit di kepalanya. Begitulah kira-kira perawakan nenek tua yang baru saja melakukan aksi akrobatik spontan.
Kontan saja aku berdiri dan melupakan impian tidur singkatku, dan aku mempersilakan nenek itu duduk,
"Silakan duduk, Nek." Nenek itu tersenyum. Dia lalu berkata,
"Ah, tidak usah, Nak. Saya tidak mau duduk." Hebat sekali, pikirku. Nenek ini menolak sebuah tempat duduk. Apakah dia kuat berdiri selama perjalanan nanti? Apakah dia bisa bertahan dihimpit dari kanan-kiri-depan-belakang selama 30 menit nanti? Sudah tidak ada tempat duduk yang tersedia. Ruang bernafas pun sukar didapat. Akan tetapi, nenek ini memutuskan untuk berdiri. Beliau tidak mau duduk.
***
Bis sudah menepi di samping Mal Metropolitan. Penumpang-penumpang yang tadinya berebutan masuk, sekarang berebutan keluar. Mereka yang baru saja keluar, serta merta menutup hidungnya dengan tangan atau saputangan. Siapa yang bisa tahan bau sampah hasil dari proses pencernaan sebuah mal yang memakan aktifitas manusia Bekasi satu hari penuh? Penumpang yang masih melanjutkan perjalanan mencari tempat duduk yang lebih lowong supaya mereka bisa mendapatkan sedikit ruang untuk bernafas.
Perjalanku sendiri masih tersisa 5 menit, dan aku masih tidak bisa menghilangkan kekagumanku kepada artis yang sepantasnya bersinar di dekade tahun 70-an, Nenek si Penyanyi. Nenek yang ketika menolak tempat duduk yang aku tawarkan, ternyata melewati barisan manusia dan membuat satu panggung kecil di tengah bis. Dia adalah seorang penyanyi. Dia menggantikan tidur 30 menit-ku dengan alunan-alunan lagu lama yang aku pun tidak tahu menahu judul dan penyanyinya. Suaranya dengan lembut mengalahkan dentuman "rock 'n roll" knalpot bis tua ini. Suaranya yang elegan juga mengalahkan usia tuanya. Kenapa nenek ini berada di bis ini? Dia seharusnya berada di sebuah rumah besar lengkap dengan isinya dan menikmati sisa-sisa keglamoran masa mudanya. Bukan, bukan seperti keglamoran masa muda yang dihabiskan hanya dengan bermain di 100 sinetron murahan tentang remaja Jakarta dan muncul di 1000 acara gosip setiap minggunya. Melainkan seperti keglamoran seorang penyanyi yang suaranya bisa mencuri perhatian para penikmat pidato Soekarno dan diingat sepanjang jaman seperti Frank Sinatra.
Tidak, dia tidak sepantasnya berada di sini.
Tidak, dia tidak seperti 1000 pengamen lainnya yang cuma bisa menyanyikan lagu Peterpan yang berjudul Mimpi Yang Sempurna. Dia adalah pengamen berkelas. Satu dari sejuta.
Tidak, dia tidak seperti ibu-ibu yang menggendong anaknya di lampu merah dan berharap uang dari "barang" yang digendongnya. Dia masih bisa berdiri dan tidak mengharapkan iba. Dia adalah seniman.
Tidak, aku tidak akan pernah melupakan Nenek Si Penyanyi yang ketika selesai mengumpulkan kepingan-kepingan logam di kantung Kopiko, menghampiriku dan tersenyum kecil. Dan aku mengartikan senyum itu sebagai,
"Sekian, terima kasih." dan tirai merah pun turun perlahan, menutup salah satu pertunjukan terbaik yang pernah aku lihat.
Catatan: Ini adalah salah satu tulisan yang pernah saya buat untuk blog saya yang berjudul Bekasi Tidak Sejauh Itu.









0 comments:
Poskan Komentar
<< Home