Minggu, Mei 25, 2008

Open-relationship?

Beberapa tahun lalu, saya sempat melansir sebuah tulisan mengenai ironi bandar udara. Seperti apa ironi bandar udara itu? Pada tulisan saya, saya mengatakan,

"Bandar udara akan selalu menjadi tempat penuh kenangan bagi semua orang. Di tempat itu, orang-orang melepas orang-orang tercinta terdekat mereka. Namun, di sisi lain, orang-orang juga menyambut orang-orang tercinta terdekat mereka yang telah berpisah sekian lama." - 7 Agustus 2005, Haswar Hafid

Waktu itu, tulisan saya terinspirasi dari pengalaman pribadi saya dengan mantan kekasih saya. Setelah menjalani hubungan 3 tahun lamanya, saya harus melepas dia, karena dia harus kembali ke negara asalnya. Sampai sekarang, saya masih teringat bagaimana di malam itu, air mata saya dengan deras mengalir jatuh ke lengan saya yang berpegangan erat ke lengannya. Sampai sekarang pun, saya masih ingat betapa klisenya kata-kata penghiburan dia kepada saya agar saya berhenti menangis. Ketika itu, jauh di dalam lubuk hati kami, kami sama-sama tahu bahwa kami tidak akan bertemu kembali. Hal yang memang menjadi kenyataan seperti apa adanya, 6 tahun berlalu, dan kami tidak pernah bertemu kembali.

Saya juga ingat ketika saya berjalan turun menelusuri tangga, saya melihat di bagian Kedatangan di bandar udara tersebut, beberapa orang dengan bahagia menyambut keluarganya yang baru tiba. Semenjak malam itu, sampai sekarang, saya selalu mengagumi bandar udara. Sungguh mencengangkan apabila membayangkan kedua sisi yang bertolak belakang itu berada pada satu tempat, dan hanya terpisahkan oleh dinding. Sungguh mengagumkan meski perpisahan saya dengan mantan kekasih saya di bagian Keberangkatan tidak akan pernah dilengkapi oleh sebuah perjumpaan lagi di bagian Kedatangan.

Berapa banyak sekarang pasangan yang harus terpisah oleh jarak? Berapa banyak pasangan yang harus berpisah di bandar udara? Berapa banyak pasangan yang kemudian bertemu kembali di tempat yang sama? Sekarang ini, seiring menyatunya berbagai belahan dunia, banyak sekali orang-orang yang kita kenal, menuntut ilmu di negara seberang atau pun mengadu nasib di belahan bumi lain. Saya punya beberapa teman yang sedang kuliah di benua Australia dan Amerika. Mantan kekasih saya berada di suatu tempat di Jepang. Salah satu teman saya juga ada yang sedang berada di Timur Tengah. Di luar sana, akan ada lebih banyak lagi orang-orang yang memiliki teman-teman yang tersebar di berbagai belahan dunia. Saya hanyalah sebagian kecil dari orang-orang tersebut. Di antara orang-orang tersebut itu juga, tidak sedikit, terdapat pasangan kekasih yang harus mendapati diri mereka terpisah ribuan mil.

(Gambar di ambil dari klip "Chasing Pavements" dan merupakan hak terdaftar atas Adele)

Lalu, berapa banyak cerita cinta yang kandas? Berapa banyak cerita cinta yang berubah pahit karena menipisnya asa? Berapa banyak cerita cinta yang bertahan? Iya, hal-hal inilah yang kemudian menjadi sebuah bentuk pesimisme dari hubungan jarak jauh. Banyak yang pesimis bahwa hubungan jarak jauh tidak akan bertahan lama. Kalau pun ada, hubungan itu harus melalui rintangan-rintangan yang sukar. Tidak ada yang pernah bilang bahwa hubungan jarak jauh akan gampang.

Saya membayangkan apabila saya kembali dihadapkan pada posisi hubungan jarak jauh ini (atau lebih sering disebut long-distance relationship). Ada tiga hal yang dapat menjadi pilihan saya apabila saya harus mendapati diri saya dan pasangan saya terpisah.

1. Berusaha menjalaninya seperti biasa

Secara pribadi, saya akan mengatakan bahwa hal ini mungkin akan menjadi hal yang paling naif yang akan saya pernah lakukan. Saya pernah dua kali menjalani hubungan jarak jauh, dan kedua-duanya gagal total. Salah satunya malahan tidak mengundang saya ke pernikahannya. Namun, terlepas dari itu, apabila saya memilih untuk berusaha menjalani hubungan saya seperti biasa, saya akan berusaha menjaga intensitas komunikasi seteratur mungkin. Fasilitas-fasilitas telepon murah seperti Skype atau pun calling card untuk sambungan internasional, akan saya manfaatkan semaksimal mungkin. Penggunaan Facebook atau Friendster juga akan sangat membantu, karena di dalamnya banyak sekali fitur-fitur yang membuat penggunanya seakan-akan melakukan hal-hal nyata di dalam dunia maya. Sesekali mengirimkan kado melalui pos juga akan sangat membantu.

Namun, sejujurnya, saya adalah orang yang paling gagal dalam hal konsistensi. Memulai sebuah hal itu gampang. Yang susah adalah menjaga agar hal tersebut berjalan terus pada irama yang sama. Komunikasi yang tadinya melalui telepon 3 hari sekali, mulai berkurang menjadi 3 minggu sekali. Pada akhirnya, 3 bulan sekali pun sudah patut disyukuri. Hal-hal yang tadinya dirasa cukup gampang, seperti komunikasi lewat e-mail, pun menjadi sama susahnya seperti menghampiri pasangan di pulau seberang.

Banyak sekali kendala yang mungkin dapat terjadi dengan pilihan ini. Padahal, kesulitan yang saya paparkan di atas baru pada lingkup saya dengan pasangan saya. Bagaimana apabila ada orang yang masuk ke dalam hubungan saya? Bagaimana kalau opsi perselingkuhan muncul?

2. Mengakhiri hubungan

Melanjutkan dari hal di atas, apabila saya merasa saya tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh ini, mungkin yang akan menjadi opsi optimal saya adalah, untuk mengakhiri hubungan saya tersebut. Hal ini cukup rasional dan logis. Pengorbanan perasaan, waktu dan materi dalam menjalani hubungan jarak jauh itu tidak sedikit. Lalu, di penghujung hari, apabila semua itu ternyata gagal, saya bisa mendapati diri saya bertanya-tanya kenapa dan kenapa.

Terlepas dari yang disebut perasaan atau filosofi bahwa semuanya itu mungkin, saya melihat bahwa, apabila memang dari awal saya merasa tidak sanggup untuk menjalani hubungan jarak jauh tersebut, saya akan mundur dari awal. Lebih baik mengalah untuk memenangkan lebih banyak hal lagi. Dengan begitu, saya juga tidak akan menutup kesempatan dia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Terkadang, kendala yang paling utama dari opsi ini adalah, menjelang perpisahan, biasanya perasaan mengambil porsi paling banyak dari saya. Di dalam banyak hal, kita menjadi terlalu emosional. Keengganan melepas saat-saat yang pernah dilewati bersama menjadi acuan kita untuk percaya bahwa mungkin di masa depan, itu semua bisa kembali lagi. Akan tetapi, kita juga harus percaya bahwa, kegagalan juga menjadi salah satu resiko. Ketidakseimbangan antara perasaan dan logikalah yang kerapkali membuat kita menjadi tidak objektif dalam menentukan sikap.

3. Berada di status open-relationship

Banyak yang belum begitu mengenal status open-relationship ini. Apabila anda adalah salah satu pengguna Facebook, anda dapat menemukan salah satu pilihan ini tersedia di bagian status hubungan. Arti daripada open-relationship ini sendiri adalah, meskipun anda berada pada satu hubungan, anda dan pasangan anda sepakat bahwa, setiap individu dapat membuka diri untuk memulai hubungan (emosional maupun fisik) dengan orang lain di luar hubungan anda. Atau dalam satu kalimat, anda tidak saling memiliki dengan pasangan anda.

Sekarang ini, di tengah pergaulan yang cukup bebas dimana setiap individu bertemu dengan banyak orang baru setiap harinya, opsi ini, secara pribadi, saya rasa cukup pas untuk diterapkan oleh pasangan-pasangan yang terpisah jarak. Pilihan terpampang di muka anda setiap harinya. Apabila anda belum bisa berkomitmen, maka jangan berjanji apa-apa. Apabila besok saya dihadapkan pada pilihan ini, mungkin hal ini akan menjadi pilihan saya. Saya merasa diri saya cukup mampu berkomitmen. Akan tetapi, hal-hal lain seperti tingkat posesif saya yang cukup tinggi, membuat saya merasa bahwa akan lebih baik apabila saya merasa tidak memiliki pasangan saya. Pada akhirnya, komitmen pun hanya menjadi sebuah pemanis perpisahan.

Kendala tipikal hubungan ini adalah, rasa ingin tahu yang terlampau terlalu tinggi. Kadangkala, saya merasa lebih baik tidak mengetahui hal-hal yang saya tidak mau tahu. Karena, kalau saya tahu, saya akan terganggu. Di hubungan seperti ini, saya tidak akan mau tahu apa yang pasangan saya lakukan ketika tidak bersama saya. Prinsip keadilan, know our own rules dan mind your own business adalah hal-hal yang harus diterapkan dalam hubungan ini.

Terlepas dari opsi apa yang dipilih, kesemua hal diatas akan bermuara pada kesepakatan apa yang akan diambil dengan pasangan kita masing-masing. Selama pasangan menerima dan mau ikut menjalani hal-hal apa yang disepakati, tidak akan ada individu yang akan merasa disakiti. Selain itu juga, objektifitas untuk mengetahui batas kemampuan anda dan pasangan anda juga berperan penting. Ketidakmampuan menemukan titik seimbang antara perasaan dan logika akan membuat semua hal menjadi bias. Terutama dalam hal menganalisa resiko-resiko yang mungkin terjadi di dalam hubungan jarak jauh.

Mungkin juga hal-hal yang saya utarakan di atas terkesan terlalu sistematis dan terlalu jauh dari kesan bahwa pada dasarnya manusia itu kompleks. Akan tetapi, hubungan antara dua insan manusia adalah organisasi sebuah perusahaan kecil. Kemampuan perencanaan dan analisa yang objektif terhadap individu masing-masing akan menentukan kesuksesan dan kegagalan sebuah hubungan, terutama hubungan jarak jauh.

6 comments:

Anonymous rommy said,

terimakasih atas usulan2nya, tapi memang ga nyaman jarak yang jauh. paling enak ya serumah :D, amiin

21 Januari 2009 10:56  
Blogger astrid meliza cerita said,

jadi kayak hts or htm-an gitu ga seh????????

19 November 2009 01:47  
Blogger Mutia said,

hmmm long distance.. experiencing it now
tulisannya bagus bgt si kak.

4 Januari 2010 22:30  
Blogger Haswar Hafid said,

rommy: betul juga~ paling enak serumah yah? :)

astrid: bisa saja disebut tanpa status (hts). selama masih bisa menjaga perasaan pasangan masing-masing. kedengarannya simpel tuh, menjaga perasaan. but, trust me, it's not as easy as it said :p

mutia: good luck dgn long distance-nya yah :)

4 Januari 2010 22:48  
Blogger Katarina said,

thanx for sharing mas. saya menjalaninya beberapa kli, menguras tenaga,emosi dan uang jg. klo akhirnya tdk bahagia : itulah hidup.

24 November 2010 13:46  
Blogger Sharkrip said,

nice article!

makanya ane gak suka kalau bepergian diantar keluarga sampe ke bandara atau stasiun. sisi melepas orang-orang tercinta. sakit rasanya melihat diri ini meninggalkan mereka yg kita cintai.

28 Desember 2010 17:24  

Poskan Komentar

<< Home

Apple
Bolanews
Detik
Facebook
Friendster
Inter Milan
Kompas
Livescore
Microsoft
Planet CSUI02
Skysports

Tempo
Wikipedia
Bayu
Conna
Jidat
Kunderemp
Maya
Nana
Nowok
Nguping Jakarta
Rinda
Treespotter
"Now you wouldn't believe me if I told you, but I could run like the wind blows. From that day on, if I was ever going somewhere, I was running!" (Forrest Gump, Forrest Gump)
Mensiversary
Kembali ke Awal

Subscribe to this blog!
Februari 2008
April 2008
Mei 2008
Desember 2008
Januari 2009
Maret 2010
Agustus 2011

I'm a PC

Pictures are taken from Dreamstime

Semua konten tulisan yang berada di blog ini adalah hak cipta penulis, kecuali apabila disebutkan selainnya
Gambar untuk desain blog ini diambil dari Dreamstime dan diubah sedemikian rupa
Hak cipta Haswar Hafid © 2008. Semua hak dilindungi undang-undang

Coretan keluh kesah dan gundah gulana Maziar Malik. Meet Mashio Miyazaki. She pixelates life. Are you in Mercer's list? Care for a cup of coffee with Anna? Windows Live Blogger Facebook LinkedIn