Kembali ke Awal
Menulis adalah pekerjaan yang sukar. Untuk memulainya dibutuhkan sebuah momentum yang tepat agar aliran kata-kata itu bisa bergerak keluar dari apapun yang mengekang. Bagi saya pribadi, menulis membutuhkan nuansa yang beragam. Ketika nuansanya seperti sekarang ini, ketika saya diiringi alunan lembut ritme elektro dari salah satu lagu Outkast yang berjudul Prototype, dan di luar jendela kamar saya, suara tetesan hujan seakan-akan tidak henti-hentinya membasahi Bumi tercinta, maka kata-kata yang keluar dari kepala saya mungkin cenderung terkesan santai dan rileks. Karena, memang itulah yang saya rasakan. Kesan kata-kata mencerminkan suasana hati. Lain halnya ketika mungkin saya mencoba menulis tentang hal-hal yang sifatnya provokatif, kesan yang tercipta tentu saja akan bersifat mengusik jiwa anda, agar anda tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeluarkan isi pikiran anda terhadap apa yang saya tawarkan.
Sukar memang bagi saya untuk mencari waktu yang tepat untuk bisa menulis banyak tentang apa yang ada di pikiran saya. Pikiran-pikiran itu lebih sering menguap ketimbang mengendap menjadi tulisan. Seringkali ketika saya menyetir, saya memikirkan tentang hal-hal yang sifatnya keseharian, maupun hal-hal di luar sana yang bisa menangkap perhatian saya. Misalnya, apakah saya akan mendapatkan tempat parkir yang dekat dengan pintu masuk, atau apa yang saya mau makan siang nanti, dan hal-hal lainnya. Di kebanyakan waktu saya di jalan tol, saya suka memperhatikan plat mobil yang kebetulan berada di depan mobil saya. "B 170 GA" akan berarti BITOGA di kepala saya. Lalu, saya mulai mempertanyakan apa itu BITOGA. Apakah BITOGA ada di pembendaharaan bahasa Indonesia? BI berarti bisa dua. BILINGUAL berarti bisa 2 bahasa. BISEKSUAL berarti memiliki 2 orientasi seksual yang berbeda. Kemudian, TOGA berarti busana yang dikenakan pada saat wisuda di sebuah institusi pendidikan. Setelah mendapatkan kedua hal ini, saya menyimpulkan BITOGA berarti bisa mengenakan 2 jenis TOGA pada saat wisuda. Saya akan terus memikirkan BITOGA sampai saya menemukan hal-hal lain yang bisa dipikirkan.
Saya ingat ketika saya kecil. Ketika itu, saya benar-benar berpikir bahwa di ujung pelangi terdapat sesuatu. Saya membayangkan ujung pelangi terletak di sebuah air terjun dimana saya bisa menemukan anak-anak seumuran saya sedang bermain. Saya kerapkali juga bermain-main dengan bentuk awan-awan yang melintas di atas kepala saya. Saya melihat ada awan berbentuk kelinci atau pun bunga. Lebih sering saya membayangkan awan sebagai bentuk wajah manusia. Di sana matanya, lalu di bawah sedikit ada hidungnya, dan kemudian wajah itu tersenyum. Awan itu lalu bergerak cepat dan kemudian sudah berubah menjadi bentuk lain. Ketika kecil, saya juga selalu mengaitkan Tuhan dengan sosok kakek tua memakai baju putih dan peci putih.
Dan kemudian, saya mulai masuk sekolah. Asal mulanya terjadi pelangi dan awan kemudian dijelaskan secara ilmiah, dan ketuhanan diajarkan. Awalnya, saya berpikir bahwa hilang sudah apa-apa yang tidak pasti, dan saya kemudian dikekang dengan ajaran bahwa hidup ini berisikan hal-hal yang pasti. Ternyata, saya salah. Ternyata, ketika manusia sudah beranjak dewasa pun, manusia masih berusaha mencari apa yang ada di ujung pelang itu.
Manusia akan selalu berusaha mencari apa yang ada di balik hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Milyaran dollar tidak akan segan-segan dikucurkan agar hal yang tidak bisa dijelaskan, bisa dijelaskan. Apakah UFO itu benar-benar ada? Apakah Raja Arthur dan Ksatria Meja Bundar benar-benar pernah ada? Apakah di luar sana ada makhluk hidup dengan intelektual tingkat tinggi seperti kita?
Itulah bentuk pembuktian anak kecil yang sudah beranjak dewasa. Ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah ilmu yang berusaha mencari tahu apa yang ada di ujung pelangi. Ilmu pengetahuan juga berusaha mencari tahu kenapa awan itu bisa saya bayangkan sedemikian rupa agar menyerupai bentuk wajah. Ilmu pengetahuan berusaha menjelaskan apa-apa yang Tuhan ciptakan.
Hal-hal seperti itulah yang saya pikir saya harus tulis. Di tengah banyaknya beban yang bertumpuk di pundak saya dan anda, saya rasa tidak ada salahnya mengingat kembali masa kecil kita. Ketika itu, pikiran kita sangat liar. Sebelum masuk sekolah, mungkin di kepala kita 1+1 adalah sama dengan 10220aXy. Setelah itu, kita pun terkekang di kenyataan bahwa 1 ditambah 1 adalah 2. Padahal, sampai kapan pun, konsep 1 ditambah 1 bisa berarti apa saja.
Sekarang saya coba kembali melepaskan dari hal-hal yang sifatnya mengunci kebebasan manusia. Ketika pikiran saya terlalu aneh, saya akan menuliskan hal-hal di pikiran saya itu. Ketika hati saya ingin berbagi kebahagiaan dengan anda, saya akan segera menuliskannya, sehingga nantinya anda pun bisa tersenyum bersama saya. Saya rasa hari ini akan menjadi momentum yang tepat bagi saya untuk kembali menulis, dan besok, kita akan mulai untuk berbagi banyak hal. Saatnya kembali ke awal dimana pikiran tidak dikekang oleh apa pun.









3 comments:
ah seperti lirik lagu coldplay yg berjudul scientist.
eh btw, mungkin itu mobilnya jean-paul bitoga.. ada hubungan ama fao2 gitu.. halah!
udah sebulan lebih nih.. kok ga di update2 si? :p
suka baca tulisannya kak haswar nih..
-mutia
*masi inget aku ga ya? :D
Poskan Komentar
<< Home