Rabu, Agustus 17, 2011

Hidup Itu (Memang Tentang) Pilihan

Kita cenderung bingung kenapa hal-hal buruk yang kita hadapi saat ini bisa terjadi. Padahal, ketika hal-hal sebaliknya, hal-hal yang baik, kita dapatkan, kita malahan tidak begitu peduli kenapa hal itu terjadi dan tidak memiliki rasa keingintahuan bagaimana hal itu terjadi. Kita mungkin memang seperti itu adanya. Ketika kita terjebak dalam situasi yang kita tidak inginkan, insting kita seketika menjadi jauh lebih tajam dari sebelumnya. Kita mulai mengumpulkan runutan kejadian-kejadian secara kronologis sembari memastikan alur cerita. Kita mulai bertanya apa, bagaimana dan kenapa. Kita mulai mencari cara bagaimana caranya keluar dari situasi yang ada. Lalu, entah bagaimana caranya, kita bisa keluar dari situasi yang kita tidak inginkan dan kembali pada titik keseimbangan yang kita inginkan. Iya, entah bagaimana caranya. Seringkali kita belum mengerti sampai Yang Maha Tahu menjelaskannya ke kita dengan cara yang maha unik. Meskipun begitu, percaya atau tidak, pada dasarnya, semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya.

Kemungkinan 50:50

Saya percaya bahwa bahkan ketika saya menulis ini pun saya dihadapkan pada berbagai kemungkinan. Ada satu dari jutaan kata yang bisa saya pilih untuk menyelesaikan kalimat ini. Berarti saya dihadapkan pada jutaan kemungkinan. Namun, apa yang ingin saya tulis dan apa yang saya maksud dalam kalimat ini, tentu memiliki kemungkinan yang lebih kecil. Sehingga saya tidak perlu berjibaku dengan jutaan kemungkinan untuk menyelesaikan satu kemungkinan. Kenapa? Karena, saya tahu betul apa yang saya mau tulis.

Saya pun merasa hidup persis seperti itu. Apabila kita tersesat, kita dihadapkan kepada terlalu banyak kemungkinan. Kita menjadi bingung dan kita tidak tahu harus memilih jalan yang mana. Di saat situasi seperti itu terjadi, sebenarnya kita bukannya tidak bisa memilih. Kita hanya tidak tahu set-set kemungkinan mana yang lebih mendekatkan kita ke tujuan kita. Ini pun sebenarnya dapat kita lihat di teori probabilitas sederhana. Misalnya, yang kita inginkan adalah X dan pilihan adalah P. Lalu, persamaannya adalah seperti ini X1 = {P1, P2, P3, ..., P(n+1)}, dan X2 = {P1, P2}. Sangat kentara sekali kalau kita akan lebih nyaman dan lebih mudah memilih untuk berada di situasi X2. Kita lebih mudah menganalisa hal-hal yang akan terjadi dan kita "hanya" dihadapkan pada kemungkinan 50:50.

Meski demikian, mudah atau susahnya memilih itu benar-benar sebuah persepsi dan permainan pikiran. Ada satu saat di mana kita akan merasa bahwa kita memiliki terlalu banyak pilihan di tangan kita. Namun, apabila pilihan-pilihan itu satu per satu kita singkirkan berdasarkan faktor sana sini, kita akan hampir selalu tiba pada situasi 50:50. Karena, pada akhirnya, pilihan itu selalu di antara iya atau tidak, benar atau salah, atau ada dan tiada. Pada intinya, sangat penting bagi kita untuk bisa menyingkirkan pilihan-pilihan yang tidak relevan dan hanya menjadi distorsi dalam pengambilan keputusan kita. Untuk sampai pada titik ini, di sinilah, lagi-lagi pertanyaan "Apa yang sebenarnya saya ingingkan?" kembali memegang peranan penting.

Analisa Skenario

Apakah kamu pernah sedang menonton film dan sudah dapat menduga akhir dari cerita di film itu seperti apa? Walaupun kamu belum pernah menontonnya? Biasanya kamu sudah bisa mulai menduga-duga akhir cerita film tersebut, karena kamu sudah pernah menonton film-film dengan alur yang sama atau paling tidak mirip. Ketika kita dihadapkan di beberapa pilihan, kita memang cenderung takut untuk menetapkan pilihan. Sebagian besar ketakutan itu disebabkan oleh ketidaktahuan apa yang akan terjadi. Deepak Chopra pernah membahas betapa tidak nyatanya ketakutan itu sebenarnya di bukunya yang berjudul "Why God is Laughing?". Saat sekarang ini, menurut Deepak, kita selalu dibungkus oleh ketakutan dan ketakutan adalah komponen di hidup ini yang akan membuat kita bertahan, karena ketakutan akan memicu kesiagaan jiwa dan raga kita terhadap bahaya yang akan menghampiri. Berita-berita bencana alam, pembunuhan, kecelakaan dan banyak lainnya menjadi santapan pagi, siang dan malam kita. Ketakutan bahwa hal-hal itu akan terjadi pada kita membuat kita merasa tidak aman.

Deepak lalu mengungkapkan bahwa ketakutan adalah sesuatu yang tidak nyata. Yang nyata adalah apa yang ada di depan kita sekarang, hal-hal yang kita percaya bahwa ada di kuasa kita. Ketakutan akan selalu memanjakan kita dalam mengambil sebuah keputusan. Kambing hitam dari situasi yang kita alami sekarang akan dengan mudah kita lemparkan ke kemungkinan yang menurut kita tidak ada dalam kuasa kita. Menurut Deepak (dan saya pun setuju), setiap dari kita adalah titik tengah dari hidup kita dan kita memegang kuasa terhadap apa pun yang terjadi dalam hidup kita. Iya, terhadap apa pun, termasuk keputusan-keputusan yang kita ambil dan situasi yang kita alami sekarang.

Tentu saja, butuh perubahan pola pikir ekstrim untuk benar-benar bisa hidup tanpa ketakutan sama sekali. Film-film yang pernah kita tonton, tanpa kita sadari membentuk sebuah pola bagaimana alur cerita mengalir di sebuah film. Maka itu, ketika kita menonton film dengan alur serupa, kita bisa langsung menduga bagaimana film itu akan berakhir. Hal yang paling mudah bagi kita untuk menyadari bahwa kita memegang kuasa terhadap hidup kita adalah untuk membayangkan skenario-skenario yang bisa kita pilih apabila kita mengambil satu keputusan. Visualisasi kita terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi itulah yang akan membantu kita untuk mengikis ketakutan kita secara perlahan. Apa pun yang akan terjadi di depan, kita setidaknya sudah bisa menduga bahwa satu atau beberapa skenario yang sudah kita siapkan akan terjadi.

Kesempatan Kedua

Lalu, bagaimana apabila ternyata keputusan yang kita ambil "salah"? Menurut saya, ketika kita sudah benar-benar tahu apa yang kita inginkan, menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita inginkan, menyingkirkan rasa takut serta pasrah, maka semua keputusan yang kita ambil tidak akan pernah salah. Yang terjadi adalah, situasi dimana kita bisa memperbaiki keputusan kita untuk menjadi keputusan yang lebih baik. Hal ini sedikit banyak menjadi jauh lebih sulit karena kita seringkali percaya bahwa tidak ada kesempatan kedua dalam hidup ini. Percaya atau tidak, ada banyak kesempatan kedua yang kita akan alami dalam hidup ini. Kenapa? Karena, kita memegang kuasa terhadap hidup kita dan kita selalu punya kesempatan untuk memperbaiki keputusan-keputusan kita.

Selain itu juga, penting bagi kita untuk tidak pernah menyesal terhadap keputusan yang kita ambil dalam hidup kita, termasuk akibat-akibat dari keputusan yang kita jalankan. Seringkali kita mendengar ungkapan bahwa hidup terlalu singkat untuk diisi dengan penyesalan, dan mungkin ungkapan klise itu benar adanya. Seorang teman pernah berkata kepada saya bahwa tidak apa-apa untuk melakukan kesalahan berulang kali, karena mungkin memang kita butuh untuk salah berkali-kali untuk bisa melakukan hal yang benar. Terlepas dari campur tangan Tuhan terhadap alam dan kematian, pada akhirnya, hidup itu memang tentang pilihan, karena semua keputusan dan kuasa terhadap apa yang kita alami sepenuhnya berada di tangan kita.

Rabu, Maret 31, 2010

Ada Yang Hilang

Berita Nenek meninggal, aku terima dengan sangat mendadak. Benar-benar seperti ungkapan petir di siang bolong, seada-adanya. Menjelang makan siang, di tengah-tengah menumpuknya janji-janji pekerjaanku, Ibuku menelpon dengan terisak-isak. Sedetik itu juga, aku tahu bahwa ada sesuatu yang sangat salah telah terjadi. Pikiranku bergerak cepat, mencari-cari kemungkinan demi kemungkinan. Apakah rumahku kecurian? Pikiranku membantah cepat dan memberitahu aku bahwa kecurian adalah hal terakhir yang akan membuat Ibuku terisak-isak sebegitu hebatnya.

“Nenek meninggal.” begitu yang Ibuku ucapkan. Sungguh singkat dan aku nyaris tidak percaya.

“Inna illahi wa’ inna ilaihi rojiun.” Aku ucapkan tetap disertai rasa tidak percaya.

“Kenapa bisa?” tanyaku.

“Nenek terjatuh di kamar mandi. Kemudian beliau pingsan, dan tidak pernah bangun lagi.” jawab Ibuku, masih dengan isakan-isakan yang membuat hatiku semakin mengilu.

Kue nastar yang masih hangat, dengan selai nanas yang tidak pelit dan aroma gosong yang khas. Siapa yang bisa menolak kue-kue nastar ini?

Sore itu juga, aku dengan seluruh keluarga berangkat menuju Makassar. Selama di perjalanan, pikiranku menerawang dengan gambar-gambar Nenek yang masih melekat erat. Air mata enggan keluar karena akal sehatku yang sudah terlalu sakit, masih berteriak-teriak, mencoba menggodaku bahwa ini semua tidak nyata. Yang terlintas seketika adalah kilasan sosok Nenek yang suka sekali membuat kue. Aku teringat ketika beliau sempat tinggal cukup lama di rumahku. Di kala senggangnya, beliau suka sekali membuat kue-kue. Tidak ada toko kue manapun yang mampu mengalahkan kue-kue buatan rumah, termasuk kue buatan Nenek. Salah satu kue dari kue-kue yang sering dibuatnya adalah kue nastar dengan isi selai nanas. Kue nastar Nenek sangat khas. Isi selai nanas dibuatnya sendiri.

“Aduh. Gosong deh!” teriak Nenekku ketika suatu kali beliau mendapati kue nastarnya ditinggal terlalu lama. Adik perempuanku yang biasanya membantu beliau hanya bisa tertawa kecil. Sementara, aku dan adik laki-lakiku sangat senang dengan kejadian ini. Bagaimana tidak? Kue-kue nastar gosong ini adalah kue-kue yang tidak akan masuk toples. Kue nastar yang masih hangat, dengan selai nanas yang tidak pelit dan aroma gosong yang khas. Siapa yang bisa menolak kue-kue nastar ini?

Tidak lama setelah itu, Nenek akan kembali asyik berjongkok mengolesi adonan-adonan kue nastarnya dengan kuning telur. Sepenggal ingatan tentang sosok Nenekku yang menemani perjalananku ke Makassar.

“Kita punya banyak cucu dan aku mendoakan mereka satu per satu.” jawab Nenekku.

Sudah hari ketiga aku berada di Makassar, dan aku masih miris melihat Kakekku yang seringkali mendadak menangis apabila mengingat Nenek sudah tiada.

“Kenapa cepat sekali?” Berulang-ulang kali Kakekku mengucapkan hal yang sama.

Beberapa tahun lalu, Kakek sempat terkena serangan jantung. Semenjak itu, Nenek selalu merawat Kakek dengan perhatian lebih dari biasanya. Hal itulah yang menjadi salah satu pemicu kesedihan Kakek. Di hari Nenek terjatuh, Nenek tidak pernah sadarkan diri sampai beliau meninggal. Yang Kakek inginkan, hanyalah diberikan waktu lebih oleh Yang Maha Kuasa untuk membalas kebaikan Nenek ketika beliau merawatnya selama ini.

“Kenapa cepat sekali? Kenapa cepat sekali?” lirih Kakekku berulang kali.

Seperti kebanyakan Kakek dan Nenek kita, mereka juga menikah di usia yang sangat muda. Sewaktu Kakek menikah dengan Nenekku, Nenek masih berumur 16 tahun. 58 tahun mereka menikah dengan segala lika-likunya. 8 putra-putri yang kesemuanya menjadi “orang” adalah kebanggaan dan tropi mereka. Dari putra-putri mereka, lahir 23 cucu-cucu kesayangan mereka.

Di subuh di hari Nenek meninggal, Nenek menghabiskan waktu lama sekali berdoa sehabis sholatnya. Sangat lama, sehingga Kakekku pun bertanya,

“Kamu berdoa apa sampai begitu lamanya?”

“Kita punya banyak cucu dan aku mendoakan mereka satu per satu.” jawab Nenekku.

Nenekku telah menjadi bagian yang hilang dan menjadi bagian yang menemukan kembali sisi-sisi yang pernah hilang.

Sekarang, rumah kecil di Makassar itu di satu saat terasa terlalu besar, karena baru ditinggal Nenek. Di satu saat yang lain, akan terasa terlalu kecil, karena terlalu penuh oleh kenangan dari orang-orang yang mencintainya. Sampai sekarang semua orang yang mencintainya merindukannya. Kadang-kadang, di saat-saat malam seperti ini, aku teringat ketika aku pulang kuliah larut malam dan harus membangunkan Nenek untuk membukakan pintu. Aku juga teringat terakhir kali aku bertemu Nenek. Saat itu, aku dengan lahap memakan kue-kue buatan Nenek. Aku juga ingat kalau setiap kali aku kembali ke Makassar, Nenek pasti akan memasakkan telur goreng atau ayam, karena beliau tahu betapa tidak sukanya aku makan ikan. Aku seringkali memikirkan bagaimana Kakekku bisa menghabiskan hari-hari setelah beliau menghabiskan 58 tahun hidup bersama Nenek.

Kepergian Nenek membuatku merasakan kembali bagaimana rasanya menjadi manusia. Kesibukan satu dilanjutkan dengan kesibukan yang lain membuat kita seringkali lupa bahwa kita ini manusia. Kehilangan Nenek membuatku menyadari banyaknya hal-hal penting di dalam hidup ini yang terlewat. 166 hari terlewati, dan aku baru melanjutkan tulisan ini setelah aku mendadak ingin mendengarkan lagu dari Ipang yang berjudul “Ada Yang Hilang”. Di satu sisi, Nenekku telah menjadi bagian yang hilang dan menjadi bagian yang menemukan kembali sisi-sisi yang pernah hilang.

Selamat jalan, Nenek. Semoga Yang Maha Kuasa menjaga Nenek sebagaimana Nenek menjaga kami dengan penuh kasih sayang selama hidup Nenek.

--- Tulisan ini didedikasikan untuk Nenek tercinta, Hj. Siti Mantasiah (1 April 1937 – 16 Oktober 2009)

Minggu, Januari 25, 2009

Cerita-cerita Cinta

Fantastis dan tragis di satu waktu yang bersamaan.

Akhir-akhir ini saya baru memperhatikan bahwa hampir atau bahkan mungkin semua orang memiliki masalah dengan yang namanya percintaan. Ada yang sedang dimabuk kepayang dengan sosok yang muncul setiap malam di dalam mimpinya. Ada juga yang setiap malam memabukkan dirinya dengan alkohol untuk melupakan sosok yang pernah dicintainya. Ada pasangan yang harus berpisah dan kembali gagal setelah bersama bertahun-tahun. Ada juga pasangan yang memutuskan bersama untuk puluhan tahun ke depan. Ada juga cerita para laki-laki yang frustrasi karena tidak mengerti keinginan dan apa yang ada di kepala dan hati perempuan. Namun, ada juga cerita para perempuan yang benar-benar tidak tahan dengan kebodohan pria. Ada yang sangat senang ketika memutuskan berpisah dengan pasangannya. Namun, di tempat lain, ada yang sangat terpukul dan mungkin akan menghabiskan hari-hari ke depannya penuh dengan tangis. Sangat banyak sekali, sungguh banyak cerita dari dua sisi yang berbeda. Setiap cerita dengan keindahan yang tak terjelaskan dan masalah yang tak terselesaikannya masing-masing. Fantastis dan tragis di satu waktu yang bersamaan.

Cerita-cerita cinta silih berganti masuk ke hidup saya akhir-akhir ini. Semua orang nampaknya sedang bersiap-siap untuk menyambut tanggal 14 Februari. Selain itu juga, di tahun yang baru saja berganti ini, cerita-cerita baru pun bermunculan tak karuan, seperti rumput-rumput liar yang ada di halaman belakang rumah saya. Saya selalu senang ketika bisa mendapatkan beberapa perspektif baru dalam melihat perasaan, salah satu hal paling rumit yang manusia miliki di dalam diri mereka. Kata seseorang, setiap orang sama, setiap orang berbeda. Salah satu kutipan berarti tentang manusia yang pernah saya dapatkan. Apalagi kita membicarakan perasaan, hampir setiap manusia sudah barang tentu memiliki pandangan yang berbeda. Perasaan adalah sesuatu yang sangat subjektif. Subjektifitas yang terbentuk pun sangat beragam. Tergantung dari pengalaman orang tersebut di masa lalu, karakter, kebutuhan, dan bahkan bisa ditentukan dari selera musik dan buku-buku yang pernah dibacanya. Iya, sekali lagi itu karena setiap orang sama, setiap orang berbeda.

Keterbatasan Cinta

Ada beberapa hal yang sampai sekarang menjadi pertanyaan di kepala saya. Salah satunya adalah kenapa sebagian besar orang memiliki definisi terbatas tentang cinta. Seringkali orang terbius dengan mengasosiasikan cinta terlalu dekat dengan lawan jenis mereka. Padahal, cinta tidak sebatas dengan satu kumpulan set itu saja. Saya bisa memberikan cinta saya untuk keluarga, teman-teman saya, kucing saya, dan bahkan mobil saya sekalipun. Apabila saya coba ambil contoh ekstrim, yaitu kecintaan saya dengan mobil saya. Saya menghabiskan 1 hari saya dimana sekitar 3 sampai 4 jam dari waktu tersebut saya bersama mobil saya. Di dalam mobil, saya menemukan ketenangan dan menghabiskan banyak waktu berpikir. Kadang-kadang di larut malam, ketika saya berkendara pulang ke rumah, alunan musik yang menemani saya di perjalanan membuat saya sangat lepas sekali. Saya tidak menghias mobil saya dengan segala macam atribut “Pimp My Ride”. Akan tetapi, ketika saya sampai di rumah dengan selamat, saya seringkali berujar, “Another safe ride home – satu lagi perjalanan yang aman sampai ke rumah.” Dan saya berterima kasih kepada mobil yang menemani saya sampai ke rumah. Lalu dari situ pun, bukan tidak mungkin ada perasaan cinta bukan? Bukankah cinta juga mengenai saling menjaga? Bukankah cinta juga berarti menemani di waktu-waktu sendiri kita? Sampai sekarang pun, saya masih merasakan patah hati karena kucing saya hilang entah ke mana dan tidak pernah kembali. Kucing saya telah menemani dan menghibur saya dengan kelakuannya yang konyol di tengah-tengah malam sepi saya.   

Saya mungkin tidak bisa memaafkan diri saya apabila saya menukar cinta saya selama belasan tahun untuk cinta dua atau tiga bulan saya.

Satu lagi yang unik mengenai cinta. Seringkali kita bertengkar dengan keluarga kita karena masalah percintaan kita dengan pasangan kita. Ini adalah salah satu hal teraneh yang hampir saya selalu temui. Terkadang tidak masuk akal sehat saya, kita bisa membela seseorang yang mungkin kita baru kenal dalam hitungan bulan dan menyakiti perasaan orang-orang yang telah menjaga kita sedari kita kecil, yang berarti mungkin sudah belasan atau puluhan tahun. Banyak yang berkata bahwa pasangan dan keluarga itu berbeda. Kita tidak bisa menyamaratakan keduanya. Lalu, kalau begitu, sebaiknya kita harus membatasi definisi kalau cinta itu universal. Saya teringat salah satu kegagalan saya ketika saya masih berada di bangku SMA. Sewaktu itu, saya sedang dimabuk cinta. Lalu, suatu hari saya harus pergi ke suatu tempat untuk beberapa hari. Perasaan rindu bukan main menggerogoti saya. Padahal itu hanya hitungan hari. Kartu telepon yang saya dapatkan, saya gunakan untuk menelpon pasangan saya – bukannya untuk menelpon keluarga di rumah. Dan hal yang paling ironisnya adalah, ketika saya kembali, Ibu saya ternyata akan dioperasi untuk satu penyakit yang dideritanya. Ketika itu, entah apa yang ada di kepala saya, saya tidak peduli dengan operasi yang harus dijalani Ibu saya, dan saya bersikeras kalau saya harus kembali ke asrama (dulu saya tinggal di asrama). Berbagai alasan saya lontarkan, yang pada intinya, sebenarnya saya hanya ingin bertemu dengan pasangan saya ketika itu. Ayah saya marah bukan main. Saya pun tidak bertemu dengan pasangan saya untuk beberapa hari lagi.

Untuk bertahun-tahun kemudian, saya menyadari betapa bodohnya saya ketika itu. Operasi yang Ibu saya jalani adalah salah satu operasi resiko tinggi. Saya tidak membayangkan apa jadinya apabila saya kehilangan Ibu saya ketika itu hanya untuk bertemu dengan pasangan saya yang baru saya kenal dalam hitungan bulan. Saya mungkin tidak bisa memaafkan diri saya apabila saya menukar cinta saya selama belasan tahun untuk cinta dua atau tiga bulan saya.

Semenjak itulah, saya berusaha sebisa mungkin membagi waktu untuk pasangan, keluarga, teman dan kolega saya. Meski seringkali kesemua itu tidak pernah semudah yang saya kira dan saya juga kerapkali gagal sampai saat ini, saya cukup tahu bahwa keseimbangan akan tiba suatu saat nanti.

Pencari Sosok 20%

Ada tulisan menarik juga yang dibuat oleh salah satu teman saya mengenai teori hubungan percintaan, “Teori 80-20”. Dikatakan bahwa dalam hubungan yang sudah berjalan dengan baik, dalam artian kita sudah merasa cocok dengan pasangan kita dan semua berjalan dengan baik, kita akan merasa 80% kebutuhan dan keinginan perasaan kita sudah terpenuhi. Kenapa hanya 80%? Karena, pada dasarnya, dua insan manusia berbeda tidak akan pernah 100% cocok. Pasti diantara keduanya ada saja konflik maupun kebutuhan yang berbenturan. Di saat-saat seperti inilah, ketika kita merasa cocok, sebenarnya masalah terbesar terjadi, kita mencari sisa 20% itu di orang lain. Ketika sosok yang memiliki 20% ini muncul di kehidupan kita, kita akan kembali dibuat mabuk kepayang. Seakan-akan bahwa sosok ini adalah penantian seumur hidup kita. Mengutip Joker dari The Dark Knight, “You complete me! – Kamu melengkapi aku!” Padahal sebenarnya, sosok ini tidak melengkapi apapun dari diri kita. Sosok 20% ini berhasil membuat bias-bias seakan-akan kalau dialah sosok 100% yang kita cari-cari. Ketika kita akhirnya memutuskan untuk meninggalkan yang 80% untuk 20%, barulah kita tersadar bahwa, bukannya melengkapi, malahan kita kehilangan lebih banyak lagi. Saya rasa tidak butuh seorang jenius untuk mengetahui mana yang lebih banyak hilang, kita kehilangan 80% atau 20%.

Meski demikian, saya mengakui bahwa sosok 20% sangat menggoda dan susah untuk ditolak. Semakin dalam kita terlibat dengan sosok-sosok 20% ini, semakin tidak bisa lepas kita, dan semakin bias juga kita ketika melihat mereka. Mereka terlihat seakan-akan 100% sempurna atau bahkan lebih. Satu pelajaran yang bisa saya ambil adalah, ketika kita sedang terlibat dengan sosok 20% ini apalagi ketika kita masih menjalin hubungan dengan yang 80%, kita harus bisa memunculkan rasionalitas berpikir kita dan objektifitas tingkat tinggi. Seringkali jebakan yang muncul adalah, kita terlalu membiarkan perasaan kita bermain. Yang perlu kita lakukan sebenarnya cukup mudah, yaitu untuk tetap menjaga pasangan 80% kita terlihat 80% dan yang 20% terlihat 0%. Masalah yang juga sering saya hadapi adalah, saya menemukan sosok 20% ketika yang saya terbelit masalah pelik dengan yang 80%, sehingga dia menjadi terlihat 0%. Ketika situasi ini terjadi, sangat wajar bukan banyak yang terjebak dengan yang 20% ini?

Meski demikian, tidak ada yang salah untuk mencoba mencari sesuatu yang mungkin lebih kita butuhkan. Pilihan di luar sana sangat banyak dan mungkin memang ada yang 80% lain atau bahkan 100%. Siapa yang tahu? Cinta tidak pernah memiliki angka dan bahkan tidak benar atau salah. Mengutip salah satu puisi saya,

silakan bakar cinta dengan benci,
tapi jangan sampai mengabu.
cinta tidak pernah hitam dan putih,
cinta itu abu-abu.

Lahir dan Mati Lagi (Maziar Malik, Agustus 2007)

Saya selalu menemukan kesulitan dalam menghakimi situasi perselingkuhan atau sejenisnya. Ketika seseorang sampai pada waktu dimana perselingkuhan akhirnya terjadi karena sosok 20% ini, saya meyakini bahwa seseorang itu bimbang bukan hanya karena kehadiran sosok 20% ini. Banyak hal di belakang dan situasi yang membuat seseorang tersebut berlabuh di lain hati. Dan percaya atau tidak, sangat mungkin pasangan 80% juga termasuk dalam kumpulan alasan-alasan yang dimiliki orang tersebut, dan selama perselingkuhan itu ternyata memiliki cinta, saya tidak tahu apakah saya bisa menyalahkan cinta yang ada itu. Saya mungkin memaki orang-orang yang ada, tapi tidak apa yang terjadi. Cinta sangat sulit untuk diredam, dan saya rasa sangat tidak adil untuk menyalahkan orang-orang yang gagal meredamnya, sementara saya juga terlalu sering membiarkan perasaan meluap-luap tidak karuan.

Jatuh Cinta Sama Sakitnya

Sama-sama jatuh cinta, hanya saja lagu yang diputar berbeda. Untuk jatuh cinta yang ini, lagu yang diputar bukan Terpesona yang dibawakan oleh Glenn Fredly dan Audy. Untuk yang ini, lagu yang diputarkan adalah lagu yang dibawakan oleh Jon McLauhglin yang berjudul So Close.

Ada beberapa hal lagi yang ingin saya bicarakan mengenai pandangan saya tentang cinta. Banyak yang berpikir bahwa jatuh cinta adalah masa-masa terindah yang bisa dimiliki seseorang. Perasaan menjadi berbunga-bunga dan dunia seakan-akan ikut berubah menjadi sebuah taman besar penuh dengan bebungaan. Senyum selalu merekah dan tampaknya tidak ada yang bisa membuat kita bersedih. Kita pun akan mendengarkan alunan-alunan musik pop dan jazz berkali-kali. Segala macam kata-kata rayuan gombal seakan-akan keluar dengan mudah dari mulut kita. Walaupun malam sudah larut dan sudah waktunya berpisah, kita tetap berdoa supaya bahkan ketika kita bermimpi pun, kita akan kembali bertemu dengan dia yang diinginkan.

Namun apakah semua cerita jatuh cinta seperti itu? Cerita jatuh cinta banyak yang pahit. Salah satunya adalah ketika semua perasaan jatuh cinta itu ternyata bertepuk sebelah tangan. Rasanya sangat tidak menyenangkan. Hari-hari harus dilalui seakan-akan kita patah hati. Lalu kita menyalahkan hidup mengenai betapa tidak adilnya hidup, ketika kita membayangkan orang yang kita cintai setiap saat, dia menginginkan yang lain. Ketika kita mencari-cari beribu-ribu alasan hanya untuk bisa bersama dia lebih lama satu menit, dan dia hanya butuh satu alasan untuk bersama yang lain. Ketika hati ini rasanya sakit terus menerus, dan kita malah semakin ingin sakit. Namun, mungkin yang paling menyakitkan dari kesemuanya adalah, ketika dia tidak tahu kalau banyak perasaan yang terpendam ketika dia melihat kita. Topeng demi topeng harus bergantian dipasang hanya untuk menutupi kecemburuan dan gundah gulana terhadap seseorang yang bahkan kita pun tidak ada di hatinya. Sama-sama jatuh cinta, hanya saja lagu yang diputar berbeda. Untuk jatuh cinta yang ini, lagu yang diputar bukan Terpesona yang dibawakan oleh Glenn Fredly dan Audy. Untuk yang ini, lagu yang diputarkan adalah lagu yang dibawakan oleh Jon McLauhglin yang berjudul So Close.

Ada juga jatuh cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan namun sakitnya bukan main. Ketika jatuh cinta itu harus dihentikan karena hal-hal sepele seperti lokasi, ras, agama dan orang-orang yang tidak setuju. Dalam soal agama, mungkin setiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Meski begitu, dalam pandangan saya, saya percaya bahwa Tuhan tidak menciptakan agama untuk membuat kita berbeda satu sama lain. Apabila memang cinta itu tidak dapat ditahan dan sesuci apa yang pasangan tersebut pegang dalam hati mereka, perbedaan keyakinan dan agama tidak akan menjadi penghalang berarti.

Cinta Dapat Dibuat

Pandangan terakhir saya mengenai cinta adalah, menurut saya, cinta itu tidak pernah datang dengan sendirinya ke muka kita masing-masing. Cinta adalah sesuatu yang kita cari dan kita temukan dengan sendirinya. Bahkan, menurut saya, cinta adalah sesuatu yang bisa kita ciptakan. Saya mungkin bisa tidak memperhatikan seseorang dengan seksama dan hanya butuh satu sentuhan di pipi untuk membuat saya mulai memperhatikan dia, mendalami dia, menghabiskan waktu dengannya dan sampai akhirnya jatuh ke lubang yang sama untuk sekian kalinya. Maka itu, saya tidak percaya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama. Di mata saya, jatuh cinta pada pandangan pertama adalah seperti melihat mantel coklat elegan di Ermenegildo Zegna. Saya tidak akan serta merta membelinya tanpa mencobanya terlebih dahulu dan melihat kinerja dompet saya. Begitu juga dengan apa yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama. Hal tersebut tidak lebih dari ekstasi sesaat yang harus segera divalidasikan rasionalitasnya.

Apabila cinta dapat dibuat, cinta juga dapat dihilangkan. Mungkin saya terdengar seperti robot. Akan tetapi, apabila kita perhatikan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, apakah semua orang yang baru berpisah dari pasangannya tidak dapat menemukan pasangan yang lain? Apakah semua orang yang putus cinta, tidak bisa menemukan cinta yang lain? Perasaan cinta yang lama itu tidak mungkin ada di dalam hati mereka terus. Yang terjadi adalah, perasaan cinta yang lama itu “dihilangkan”, bagaimana pun caranya, dan mereka menciptakan kembali cinta itu di sosok orang lain. Semudah itu.

Maaf, mungkin tidak semudah itu. Mungkin yang harus dilewati adalah jalan-jalan berliku dan bayangan yang terus menghantui. Akan tetapi, mengutip tulisan teman saya juga, terkadang untuk melewati kenangan yang pahit yang harus dilakukan adalah, untuk mengeluarkan perasaan itu begitu saja. Apabila memang dibutuhkan tangisan yang keras berhari-hari, maka biarkan lah seperti itu. Yang perlu ditekan ke dalam diri kita masing-masing adalah, cinta bisa pudar, kenangan bisa tergantikan dan kembali mengutip teman saya (yang mengutip dari Theodore H. White), satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah, belajar dari kegagalan atau kesedihan yang baru saja kita alami. Itulah hal terbaik yang bisa kita lakukan ketika sedang sedih, belajar. Sesuatu yang pikiran ini tidak akan pernah lelah, tidak pernah takutkan, dan tidak pernah sesalkan.

Kurang lebih begitulah pandangan-pandangan saya mengenai cinta, cinta dan cinta. Salah satu hal paling unik dan rumit yang pernah Tuhan berikan kepada manusia. Meski begitu, cinta adalah salah satu anugerah yang tidak ternilai yang pernah Tuhan berikan kepada kita juga. Semoga artikel ini dapat membantu teman-teman sekalian untuk kembali lebih mendalami cinta dan mendapatkan sudut-sudut pandang lain dalam melihat cinta.

Referensi:

- “Fullness Left Behind” (Cut Rindayu, Januari 2009)
- “Remembering Heartaches” (Rosa Tifanda, Januari 2009)
- “Story of A Soul” (Cut Rindayu, Desember 2008)
- “The Best Thing for Being Sad” (Sani Wiyadni, Januari 2009)
- “The 80-20 Relationship Theory” (Raby Agusta, Januari 2009)

Sabtu, Januari 17, 2009

Sensasi Resolusi

Seringkali angin berhembus terlalu kencang, sehingga api itu meredup.

Luar biasa apa yang bisa dilakukan oleh sebuah pergantian hari dari tanggal 31 Desember ke 1 Januari terhadap umat manusia. Kita mungkin sudah terlalu lelah menjalani 365 hari, sehingga tanggal 1 Januari yang semakin hari semakin mendekati seakan-akan kembali menyalakan api-api semangat yang ada di dalam diri kita. Kalimat “Tahun depan harus menjadi tahun lebih baik” mungkin sudah terdengar seperti sebuah hal yang klasik. Akan tetapi, sesungguhnya inilah yang menjadi sebuah esensi pergantian tahun. Kita tutup tahun yang lama dan kita buka lembaran-lembaran baru.

Rasanya begitu menyenangkan ketika melihat berbagai hal yang diinginkan oleh orang-orang terdekat saya. Tahun yang baru tampaknya akan kembali menjadi panggung besar perhelatan pencapaian mereka. Api-api yang membara terlihat jelas di mata setiap mereka. Yang perlu mereka lakukan hanyalah untuk menjaga api itu tetap menyala sepanjang tahun. Tidak mudah memang. Seringkali angin berhembus terlalu kencang, sehingga api itu meredup. Meski begitu, satu hari tidak akan berhenti menunggu untuk api itu untuk terang kembali.

Kurang lebih begitulah bagaimana semua mimpi-mimpi singkat itu mereka tuangkan dalam satu resolusi. Resolusi tentang pencapaian studi, karir, sampai ke berat bedan sekalipun. Sungguh luar biasa bukan apa yang bisa dilakukan dalam hitungan detik pergantian tahun itu? Sungguh luar biasa, karena di balik gemerlap dan gegap gempita perayaan tahun baru, sebenarnya kita ditampar keras sekali dengan kenyataan bahwa satu tahun sudah berganti dan mungkin tidak terlalu banyak yang kita lakukan di kurun waktu satu tahun tersebut. Tidak begitu banyak, karena resolusi kita untuk tahun berikutnya menumpuk luar biasa.

Resolusi Setiap Hari

Lalu pernahkah kita bertanya kepada diri kita kenapa resolusi itu hanya ada di pergantian tahun? Kenapa tidak ketika jam berganti di satu hari? Kenapa tidak di pergantian minggu? Kenapa tidak berubah saat ini juga? Salah satu teman saya, pernah mengagung-agungkan hari Senin sebagai hari yang bisa menjadi awal yang baru dari hidupnya. Dia tidak akan segan-segan membuat resolusi di satu waktu, dan akan mulai mengeksekusinya di hari Senin berikutnya. Sehingga, kurang lebih dia punya 52 hari yang dapat menjadi momen perubahan dirinya. Cukup unik karena apabila kita perhatikan, dalam satu tahun tidak susah untuk mencari satu hari tertentu yang bisa menjadi hari perubahan dalam hidup kita. Ketika saya menyadari hal ini, sebuah pergantian di malam tahun baru mendadak berubah menjadi hanya sebuah satu peristiwa kecil dalam hidup saya.

…manusia harus diberi kesempatan berkali-kali…

Pagi ini, tanggal 17 Januari 2009, mungkin akan menjadi sebuah awal yang baru. Mungkin saya akan membuat resolusi. Mungkin tidak hari ini. Mungkin besok saya juga akan membuat resolusi. Teman saya juga pernah berkata bahwa manusia harus diberi kesempatan berkali-kali – tidak hanya 2 kali. Meskipun, manusia tersebut akan jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Ketika saya bertanya kepada diri saya sendiri, mengapa dia bisa berpikir seperti itu, saya sadar bahwa Tuhan dan segala hal-hal yang tidak bisa dijelaskan di alam semesta ini saja memberikan kita kesempatan berkali-kali dalam memperbaiki hidup kita detik dimana kita terbangun dari tidur. Lalu, kenapa manusia harus angkuh terhadap satu sama lainya, memberikan hanya satu atau dua kali kesempatan untuk berubah dalam hidup mereka?

Dan begitulah bagaimana dalam kurun satu tahun, kita sebenarnya diberikan 365 kali kesempatan untuk membuat resolusi demi resolusi. Tahun baru, menurut saya, sebenarnya tidak lebih dari momentum yang saya dan mungkin juga kalian, gunakan untuk merayakan pencapaian kita di tahun sebelumnya, sehingga resolusi-resolusi muluk tidak perlu tercipta di tengah pengaruh sensasi alkohol dan hirak bingar malam pergantian tahun baru. Meskipun begitu, pada akhirnya, semuanya itu pun akan kembali kepada diri kita masing-masing dalam menjalankan resolusi-resolusi yang kita ciptakan. Kembali kepada bagaimana kita menjaga api-api itu tetap menyala.

Jumat, Januari 09, 2009

Nenek Si Penyanyi

Suatu malam, aku sedang dalam perjalanan pulang dari Depok menuju Bekasi. Ketika itu, aku menaiki Patas 9B dari Pasar Rebo. Adalah suatu hal yang sungguh nikmat ketika anda andalah 40 orang pertama yang menaiki salah satu bis Mayasari Bakti ke manapun tujuan anda. Sungguh nikmat, karena anda bisa memilih anda mau duduk di mana. Dan, hal itulah yang biasa kulakukan ketika naik Patas 9B di Pasar Rebo. Pasar Rebo adalah titik awal keberangkatan Patas 9B menuju Bekasi. Kalau anda naik Patas 9B di titik lain setelah Pasar Rebo, mungkin anda termasuk di golongan 60 orang pertama yang berdiri. Namun biasanya, perjalanan Patas 9B dari Pasar Rebo ke Bekasi tidaklah sepadat arah sebaliknya.

Malam itu aku memilih duduk di dekat pintu belakang bis. Bagiku, ini adalah zona nyamanku. Karena, di dekatku adalah jendela dengan ukuran 2.5 x 1.5 meter. Angin berhembus sangat kencang sekali di pintu belakang. Walaupun dapat dipahami bahwa semua debu dalam perjalananku menuju Bekasi dapat menempel di mukaku yang berminyak dan asap knalpot dapat bersemayam di paru-paruku, rasa-rasanya angin malam lebih menggoda. Dalam kehidupan nyata, mungkin hal ini sama dengan bapak-bapak umur 40 tahunan dan memiliki penyakit asam urat, yang tidak dapat menolak makanan-makanan pantangannya.

Bis akan memasuki jalan tol sehabis melakukan putaran satu kali di Cawang. Penumpang yang berdiri sudah mulai berdesakan. Selama di Cawang, angin yang mengalir ke mukaku sangat langka. Seiring mulai ramainya isi bis, aku mulai kepanasan. Keringatku mulai berkembang biak seenak jidatnya di punggung dan mukaku. Aku sangat tidak sabar menantikan laju 120 km/jam bis ini di jalan "bebas hambatan" nanti. Aku membayangkan sebuah 30 menit tidur yang indah. Apalagi angin yang bertiup menerpa keringat di leher dan wajahku sudah barang tentu akan membuat tidurku semakin sejuk.

Ketika polisi kembali menyaringkan peluitnya untuk sekian kalinya, tanda supaya bis ini tidak mengambil penumpang lagi dan segera berjalan, tiba-tiba seorang nenek melompat masuk ke dalam bis. Setiap kali anda menemukan kata "nenek" sehabis tanda koma ini, bayangkanlah seorang nenek. Iya, nenek. Wanita dengan goresan keriput yang sangat jelas di wajahnya tanda termakan usia kepala 6. Wanita dengan kulit-kulit yang otot-ototnya mulai hilang tidak berbekas ditelan tulang. Wanita dengan baju-baju kebaya dan sarung tua yang kumal. Wanita dengan sehelai kain bandana yang sudah usang yang melilit di kepalanya. Begitulah kira-kira perawakan nenek tua yang baru saja melakukan aksi akrobatik spontan.

Kontan saja aku berdiri dan melupakan impian tidur singkatku, dan aku mempersilakan nenek itu duduk,

"Silakan duduk, Nek." Nenek itu tersenyum. Dia lalu berkata,

"Ah, tidak usah, Nak. Saya tidak mau duduk." Hebat sekali, pikirku. Nenek ini menolak sebuah tempat duduk. Apakah dia kuat berdiri selama perjalanan nanti? Apakah dia bisa bertahan dihimpit dari kanan-kiri-depan-belakang selama 30 menit nanti? Sudah tidak ada tempat duduk yang tersedia. Ruang bernafas pun sukar didapat. Akan tetapi, nenek ini memutuskan untuk berdiri. Beliau tidak mau duduk.

***

Bis sudah menepi di samping Mal Metropolitan. Penumpang-penumpang yang tadinya berebutan masuk, sekarang berebutan keluar. Mereka yang baru saja keluar, serta merta menutup hidungnya dengan tangan atau saputangan. Siapa yang bisa tahan bau sampah hasil dari proses pencernaan sebuah mal yang memakan aktifitas manusia Bekasi satu hari penuh? Penumpang yang masih melanjutkan perjalanan mencari tempat duduk yang lebih lowong supaya mereka bisa mendapatkan sedikit ruang untuk bernafas.

Perjalanku sendiri masih tersisa 5 menit, dan aku masih tidak bisa menghilangkan kekagumanku kepada artis yang sepantasnya bersinar di dekade tahun 70-an, Nenek si Penyanyi. Nenek yang ketika menolak tempat duduk yang aku tawarkan, ternyata melewati barisan manusia dan membuat satu panggung kecil di tengah bis. Dia adalah seorang penyanyi. Dia menggantikan tidur 30 menit-ku dengan alunan-alunan lagu lama yang aku pun tidak tahu menahu judul dan penyanyinya. Suaranya dengan lembut mengalahkan dentuman "rock 'n roll" knalpot bis tua ini. Suaranya yang elegan juga mengalahkan usia tuanya. Kenapa nenek ini berada di bis ini? Dia seharusnya berada di sebuah rumah besar lengkap dengan isinya dan menikmati sisa-sisa keglamoran masa mudanya. Bukan, bukan seperti keglamoran masa muda yang dihabiskan hanya dengan bermain di 100 sinetron murahan tentang remaja Jakarta dan muncul di 1000 acara gosip setiap minggunya. Melainkan seperti keglamoran seorang penyanyi yang suaranya bisa mencuri perhatian para penikmat pidato Soekarno dan diingat sepanjang jaman seperti Frank Sinatra.

Tidak, dia tidak sepantasnya berada di sini.

Tidak, dia tidak seperti 1000 pengamen lainnya yang cuma bisa menyanyikan lagu Peterpan yang berjudul Mimpi Yang Sempurna. Dia adalah pengamen berkelas. Satu dari sejuta.

Tidak, dia tidak seperti ibu-ibu yang menggendong anaknya di lampu merah dan berharap uang dari "barang" yang digendongnya. Dia masih bisa berdiri dan tidak mengharapkan iba. Dia adalah seniman.

Tidak, aku tidak akan pernah melupakan Nenek Si Penyanyi yang ketika selesai mengumpulkan kepingan-kepingan logam di kantung Kopiko, menghampiriku dan tersenyum kecil. Dan aku mengartikan senyum itu sebagai,

"Sekian, terima kasih." dan tirai merah pun turun perlahan, menutup salah satu pertunjukan terbaik yang pernah aku lihat.

Catatan: Ini adalah salah satu tulisan yang pernah saya buat untuk blog saya yang berjudul Bekasi Tidak Sejauh Itu.

Jumat, Desember 26, 2008

Bekasi Tidak Sejauh Itu

Bekasi adalah sebuah kota satelit yang berada di timur jauh Jakarta. Disebut kota satelit karena Bekasi adalah satu diantara sekian kota yang berlokasi di sekitar Jakarta dan bertugas menopang tegaknya isi sekitar Monas. Tidak banyak yang dapat ditemukan di Bekasi selain kesemrawutan yang merupakan sebuah penyakit menular dari Jakarta pinggiran. Ketika baru melewati pintu tol saja, semua orang akan menemukan salah satu penyebab kesemrawutan tersebut. 3 gedung mal besar berjejer di kiri, depan, dan kanan, di semua sisi mata bisa memandang. Tidak jauh dari situ, ada juga sebuah gedung mal yang di sampingnya berjejer deretan ruko yang di ujung sana terlihat samar-samar ditelan oleh horizon.

Semua orang bebas masuk mal-mal besar tersebut, tapi tidak semua orang bebas keluar. Bagi si kaya, isi mal-mal dapat memuaskan nafsu mereka. Akan tetapi, bagi si miskin, isi mal adalah motif. Iya, motif. Karena isi gedung ini tidak lebih dari etalase-etalase yang berhiaskan "keinginan masyarakat". Masyarakat yang mampu, tentu saja dapat membeli ini, itu dan apapun. Sementara yang tidak mampu dan tergiur untuk mendapatkan semuanya seperti "si rakus"? Etalase-etalase itu adalah semua motif mereka untuk membunuh ibu-ibu, memperkosa anak kecil, menjual bayi, mencuri ayam, dan merampok bank. Tidak, tentu saja hidup ini tidak sebegitu berdarahnya. Bekasi tidak memberikan kesempatan begitu banyak di tengah kesemrawutan yang ada. Selain itu, manusia pantas bersyukur karena adanya penjara dan neraka. Paling tidak mereka bisa berpikir sekali atau dua kali sebelum melakukan  perbuatan-perbuatan nista itu. Yah, kalau mereka terdesak, setidaknya mereka bisa menyalahkan isi etalase-etalase itu.

Selain mal-mal, semua orang juga akan dihadiahi bau sampah yang menusuk hidung dari gedung sebelah kiri, "Mal Metropolitan". Tidak lupa di ujung sana ketika keluar dari pintu tol Bekasi Barat, segerombolan anak-anak kecil siap menjual mimpinya demi seratus atau dua ratus rupiah. Pikir mereka, mereka bisa kaya dengan mengumpulkan lima ribu setiap harinya sampai mereka mati tertabrak mobil. Tidak sedikit para "pakar pendidikan" yang tidak segan-segan membeli mimpi mereka dengan membuka jendela dan menyogohkan kepingan putih atau emas itu. Mereka pikir mereka beramal. Tanpa mereka sadari, mereka telah membunuh sepersekian dari generasi muda Indonesia.

Ketika detik-detik lampu merah mendekati "00", semua orang bebas memilih jalan apa saja. Tetapi, definisi Bekasi yang mereka akan temui tidak akan jauh lebih baik dari pertigaan yang berisikan "Mal Metropolitan", "Mega Bekasi Hypermal", dan "Plasa Bekasi". Seiring manusia berjalan jauh dari pertigaan yang sangat "metropolitan" itu, mereka hanya akan menemui perumahan, pertokoan, dan pabrik. Tidak, mereka tidak akan menemukan mayat. Setidaknya, tidak setiap hari.

Bekasi tidak sesakit kata-kata barusan. Bekasi adalah tempat para tinggal pemimpi. Mereka adalah pemimpi yang berharap mimpinya terwujud bukan di Bekasi, namun di Jakarta. Mereka rela menempuh perjalan ratusan menit demi meraih apa pun yang ingin mereka raih. Bekasi adalah tempat tidur mereka dimana mereka bebas bermimpi dan jauh dari bisingnya kota Jakarta. Sebagian besar penduduk Bekasi akan menghilang ketika matahari Senin telah datang. Semua akan berpencar ke berbagai jurusan. Para penghuni setia AC25 akan pergi ke arah Blok M. Para penumpang AC40 akan menuju ke Tanjung Priuk. Ada juga yang memilih bus hijau kecil "Transitas" untuk menuju ke Cawang dan sekitarnya. Aku? Aku akan menaiki Patas 9B dan berhenti di Pasar Rebo.

14 tahun lalu, ketika aku pertama kali menaiki Patas 9B, bis ini tidak berisikan manusia dan keringat. Jalanan lengang dan semua orang bebas duduk di mana saja. Tampaknya sekarang, Jakarta sudah menjadi Mekah buat manusia Indonesia. Setiap hari mereka akan mengelilingi Jakarta berharap mendapatkan berkah dari pucuk Monas. Namun, kala itu, aku hanyalah seorang anak kecil yang memegang erat tangan ayahnya karena takut hilang ditelan gedung-gedung yang baru akan mencoba merangkak berdiri. Orang-orang dewasa tidak lebih dari sosok yang sukar dimengerti. Aku punya dunia sendiri, dan dunia yang saya langkahi waktu itu bagiku bukanlah tempatku.

14 tahun berlalu, bis yang berlalu-lalang sekarang mungkin masih sama dengan yang aku tumpangi 14 tahun lalu. Bukti-buktinya adalah jok bangku-bangku yang robek, besi-besi yang berkarat parah, dan tentu saja, asap hitam pekat dari knalpot yang berlomba-lomba memenuhi hitamnya langit Jakarta.

14 tahun berlalu, dan aku bukanlah anak kecil lagi. Sekarang, aku adalah penumpang yang berdiri di tengah himpitan pantat homoseksual dan dada kencang perempuan, penumpang yang bermandikan keringat Senin pagi, penumpang yang memperhatikan wajah-wajah para penumpang lain, penumpang yang sangat antusias dengan hiburan di bis, dan aku adalah seorang penumpang yang berusaha menggoreskan cerita dari rutinitas yang sekilas tampak biasa, namun bagiku sangat unik dari tempat duduk manapun aku memandangnya.

Dan perjalanan saya yang singkat dari Bekasi ke mana pun, saya mulai.

Catatan: Ini adalah salah satu tulisan yang pernah saya buat untuk blog saya yang berjudul Bekasi Tidak Sejauh Itu.

Selasa, Desember 16, 2008

Saya Seorang Penari

… and I’m on my knees looking for the answer.
Are we human or are we dancer?

Sudah beberapa waktu lamanya, saya mendengarkan lagu The Killers yang berjudul Human ini. The Killers butuh 4 album untuk meyakinkan saya bahwa mereka benar-benar sebuah band yang bagus. Padahal, sebenarnya, mereka cukup harus meyakinkan saya dengan 3 lagu mereka. Yang pertama, Somebody Told Me. Lalu, Tranquilize (yang dibawakan bersama Lou Reed). Kemudian, akhirnya lagu ini, Human. Setelah benar-benar mendengarkan lagu inilah, saya baru berpikir untuk membeli semua album The Killers.

Dancer atau Dancers?

Ada sedikit hal yang menggelitik ketika saya mencari tahu tentang lirik lagu ini untuk pertama kali di internet. Beberapa situs, seperti, EW.Com sempat menominasikan lagu The Killers ini sebagai Lirik Terbodoh Minggu Ini, dan itu semua hanya karena mereka berdebat bahwa Brandon Flowers (vokalis The Killers) memiliki kesalahan gramatikal dalam penulisan “dancer”-nya. Seharusnya, menurut beberapa orang, lirik yang benar adalah, “…or are we dancers.” Iya, karena penggunaan kata kami yang bersifat plural.

Lalu saya pun mengikuti komentar-komentar pembaca terhadap tulisan EW.Com tersebut. Banyak pembaca setuju dengan si penulis mengenai kebodohan Brandon. Banyak juga yang tidak begitu perduli, karena menurut mereka lagu yang dibawakan The Killers indah dan bahkan Mark Twain tidak pernah memiliki bahasa Inggris yang begitu bagus. Namun, di antara semua komentar tersebut, ada satu komentar anonim yang cukup membuka pikiran saya.

Di dalam komentar tersebut, disebutkan bahwa penggunaan kata dancer pada lirik lagu tersebut sudah tepat penggunaannya. Karena, The Killers tidak merujuk pada dancer (atau penari) secara literal. Namun, The Killers menggunakan kata dancer tersebut dengan makna tersembunyi. Kata dancer pada kalimat tersebut merujuk pada sebuah istilah yang diangkat oleh pengarang berdarah Perancis dan Ceko, bernama Milan Kundera, di novelnya yang berjudul Slowness.

Tidak Terlihat

Kita tidak bisa berhenti dan kita ingin selalu disorot lampu dan kamera. Persis seperti para penari di sebuah pertunjukan.

Dancer, menurut Kundera, adalah suatu keadaan dimana kita melakukan keseharian kita untuk pemirsa yang tidak terlihat, hanya untuk memenuhi harapan orang-orang sekitar kita atau pun tatanan sosial yang ada. Maka dengan itu, bukannya menjadi lebih jujur terhadap diri kita sendiri, kita malahan menjadi palsu dan membohongi diri sendiri. Di hari-hari yang kita lalui, kita hidup seakan-akan selalu berada di bawah sorotan lampu dan kamera. Kita tidak bisa berhenti dan kita ingin selalu disorot lampu dan kamera. Persis seperti seorang penari di sebuah pertunjukan.

Hal ini kemudian semakin jelas ketika di awal lagu mereka menggambarkan keadaan penari tersebut menjelang dipanggil di satu pertunjukan.

I did my best to notice, when the call came down the line.
Up to the platform of surrender.
I was brought, but I was kind.
And sometimes I get nervous when I see an open door.
Close your eyes. Clear your heart.
Cut the cord.

Saya Seorang Penari dan Pelacur

I'm a Dancer!

Karena, ketika memang dunia menyiksa mereka, adalah kami penari dan pelacur yang akan menghibur mereka. Ketika dunia membuat mereka tertawa lupa akan kesedihan yang menunggu, kami penari dan pelacur juga yang akan menampar mereka.

Beberapa waktu terakhir ini, saya menyadari diri saya tersesat, dan saya melihat diri saya tersesat. Mungkin sudah tiba juga waktunya bagi saya untuk merasakan tersesat. Tidak nyaman rasanya untuk berada di keadaan dimana banyak hal yang harus dikerjakan, dan kemudian diri ini mempertanyakan kenapa dan untuk apa. Lalu, lengkaplah justifikasi terhadap diri sendiri ini. Satu orang mengatakan bahwa mungkin saya menyimpan terlalu banyak hal di dalam diri saya. Satu orang mengatakan bahwa saya pelacur dengan berbagai topeng yang hidup di balik imaji fisik belaka. Satu  lagi berkata bahwa saya tidak lebih dari sekedar sebuah mimpi. Berbagai diri saya berkata bahwa mungkin mereka benar. Namun, mungkin banyak yang mereka tidak tahu juga bahwa penari adalah penari dan pelacur adalah pelacur. Kami adalah orang-orang yang berusaha menghibur mereka yang merasa diri mereka apa adanya. Karena, ketika memang dunia menyiksa mereka, adalah kami penari dan pelacur yang akan menghibur mereka. Ketika dunia membuat mereka tertawa lupa akan kesedihan yang menunggu, kami penari dan pelacur juga yang akan menampar mereka.

Mungkin memang begitu. Saya seorang penari, sepalsu yang mereka katakan. Saya juga seorang pelacur, semurah yang dia inginkan. Tidak ada yang begitu mengenal saya. Karena ketika saya datang ke satu orang, saya akan menjadi seperti yang orang itu inginkan. Lalu, ketika saya ke orang lain, saya mengganti topeng saya lagi. Mungkin, seperti itu adanya. Namun seorang penari dan pelacur pun tidak akan melakukan itu, apabila menjelang tirai dibuka, dan saya menutup mata saya, dan mereka tidak mencari sesuatu yang palsu. Apabila memang kamu menginginkan saya seperti apa adanya, maka jangan menangis ketika saya tidak semanis yang kamu pernah kira. Atau apabila saya tidak mencintai seperti saya mencintai kemarin. Atau apabila saya tumbuh menjadi orang yang dingin. Atau apabila saya sendiri belum menjadi seperti apa yang saya inginkan. Atau mungkin hanya beberapa orang saja yang pernah, sedang dan akan menikmati saya yang bukan penari dan pelacur.

Akan tetapi, belum semua orang juga menemukan jawaban buat diri mereka sendiri. Apalagi diri kita. Apakah kita manusia? kita penari? – Are we human? Or are we dancer? Sampai pertanyaan itu terjawab,  jadi, di mana lampu dan kamera? Silakan sorot saya kembali. Sudah pagi, dan pertunjukkan hari ini akan segera dimulai.

Referensi: Gambar diambil dari Dreamstime.

Apple
Bolanews
Detik
Facebook
Friendster
Inter Milan
Kompas
Livescore
Microsoft
Planet CSUI02
Skysports

Tempo
Wikipedia
Bayu
Conna
Jidat
Kunderemp
Maya
Nana
Nowok
Nguping Jakarta
Rinda
Treespotter
"Now you wouldn't believe me if I told you, but I could run like the wind blows. From that day on, if I was ever going somewhere, I was running!" (Forrest Gump, Forrest Gump)
Hidup Itu (Memang Tentang) Pilihan
Ada Yang Hilang
Cerita-cerita Cinta
Sensasi Resolusi
Nenek Si Penyanyi
Bekasi Tidak Sejauh Itu
Saya Seorang Penari
Ritual dan Realitas
Open-relationship?
Mensiversary

Subscribe to this blog!
Februari 2008
April 2008
Mei 2008
Desember 2008
Januari 2009
Maret 2010
Agustus 2011

I'm a PC

Pictures are taken from Dreamstime

Semua konten tulisan yang berada di blog ini adalah hak cipta penulis, kecuali apabila disebutkan selainnya
Gambar untuk desain blog ini diambil dari Dreamstime dan diubah sedemikian rupa
Hak cipta Haswar Hafid © 2008. Semua hak dilindungi undang-undang

Coretan keluh kesah dan gundah gulana Maziar Malik. Meet Mashio Miyazaki. She pixelates life. Are you in Mercer's list? Care for a cup of coffee with Anna? Windows Live Blogger Facebook LinkedIn